PAREPARE— Tim nasional Indonesia membuka langkahnya di putaran keempat Kualifikasi Piala Dunia 2026 dengan kekalahan dramatis 3-2 dari tuan rumah Arab Saudi. Meski gagal membawa pulang poin, skuad Garuda tampil penuh semangat dan nyaris membuat kejutan di Stadion King Abdullah Sports City, Jeddah.
Pertandingan yang digelar dini hari waktu Indonesia ini berlangsung dalam tensi tinggi dan penuh drama. Lima gol tercipta, tiga penalti diberikan dua untuk Indonesia dan satu kartu merah dijatuhkan kepada pemain Arab Saudi di menit akhir. Semua keputusan krusial tersebut diambil melalui intervensi VAR, menambah intensitas laga pembuka Grup B yang penuh ketegangan.
Di balik atmosfer panas stadion, dukungan luar biasa datang dari ribuan warga Indonesia yang bekerja di Arab Saudi. Mereka memadati tribun dengan atribut merah putih, menyanyikan yel-yel, dan menjadi energi tambahan bagi Marselino Ferdinan dan kawan-kawan. Sorak-sorai diaspora Indonesia di Jeddah menjadi bukti bahwa semangat Garuda tak hanya berkobar di tanah air.
Salah satu tenaga kerja migran, asal Desa Pambusuang, Kabupaten Polman, Sulawesi Barat Hj Saidah, menyaksikan langsung pertandingan bersama suaminya. Dalam unggahan status media sosialnya, ia menulis dengan nada campur aduk antara bangga dan kecewa. “Habis nonton bola gaes yang namanya hobi bola. Sygnya kalah Indonesia 3-2 gaes 😢🇮🇩.”
Ungkapan sederhana itu mencerminkan semangat diaspora Indonesia yang tetap membara meski jauh dari kampung halaman. Bagi mereka, pertandingan bukan sekadar tontonan, melainkan momen kebersamaan, pelepas rindu, dan bentuk cinta pada Merah Putih.
Pelatih Patrick Kluivert mengapresiasi perjuangan anak asuhnya yang mampu memberikan perlawanan sengit kepada salah satu kekuatan besar sepak bola Asia. “Kami kalah, tapi kami menunjukkan bahwa Indonesia bukan tim yang bisa diremehkan. Dukungan dari masyarakat Indonesia di sini sangat luar biasa,” ujar Kluivert usai laga dikutip dari laman sejumlah media.
Meski harus pulang dengan tangan hampa, performa timnas Indonesia memberi harapan besar bagi kelanjutan perjuangan di Grup B. Laga ini menjadi pengingat bahwa Garuda bisa terbang tinggi, bahkan di langit Timur Tengah, selama semangat juang dan dukungan rakyat tetap menyatu.(*)






