Minggu, 14 Desember 2025 berlangsung pertunjukan teater Sangkutilang di Aula Desa Bili-Bili, Bontomarannu, Kabupaten Gowa. Pertunjukan ini berhasil menarik perhatian publik dengan menggabungkan seni tradisional dan isu ekologis.
Pertunjukan teater Sangkutilang sendiri adalah bagian dari Program Inovasi Seni Nusantara (PISN) yang lolos seleksi untuk didanai Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM) Direktorat Jenderal Riset dan Pengembagan Kementerian Pendidikan, Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia.
Penulis: Andi Sulfana Masri
Judul kegiatan dari PISN ini adalah “Sangkutilang: Revitalisasi Teater Tradisional sebagai Media Partisipatif Literasi Ekologi di Bili-Bili, Gowa” dilaksanakan oleh Universitas Negeri Makassar (UNM) sebagai pelaksana utama, dengan dukungan dari Universitas Muhammadiyah Makassar (Unismuh).
Ketua program adalah Prusdianto, bersama anggota Asis Nojeng dan Aulia Evawani Nurdin dari UNM, serta Anzar dari Unismuh. Samboritta Art, sanggar seni berbasis komunitas yang berlokasi di Desa Bili-Bili, Gowa, menjadi mitra sasaran, dengan Pemerintah Desa Bili-Bili sebagai mitra kerjasama.
Program ini menggabungkan seni tradisional dengan isu-isu ekologis yang sangat relevan, seperti keberlanjutan alam dan pelestarian lingkungan, untuk meningkatkan kesadaran ekologis masyarakat setempat melalui teater.
Melalui adaptasi teater Sangkutilang, cerita berbasis kedaerahan yang mengangkat kisah seorang pemuda dihadirkan dengan elemen-elemen artistik yang mengandung pesan ekologis.
Samboritta Art: Menjaga Tradisi, Menghubungkan Seni dengan Alam
Samboritta Art, yang didirikan pada 2018, merupakan sanggar seni berbasis komunitas di Desa Bili-Bili, Kecamatan Bontomarannu, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan. Sanggar ini bertujuan untuk menyalurkan minat dan bakat generasi muda dalam seni budaya, khususnya teater, tari, dan musik tradisional.
Melalui program Sangkutilang, Samboritta Art berhasil menjembatani dunia seni dengan isu lingkungan, sekaligus memberdayakan masyarakat desa Bili-Bili untuk lebih peduli terhadap keberlanjutan alam mereka.
Menghidupkan Tradisi dengan Sentuhan Ekologi
Program Sangkutilang berhasil mengadaptasi cerita tradisional dengan menambahkan elemen-elemen ekologis yang relevan dengan isu-isu lingkungan di Bili-Bili. Cerita yang awalnya berkisar pada kisah Sangkutilang, seorang pemuda yang terbuang, kini telah diperbarui dengan pesan-pesan kuat tentang pentingnya keberlanjutan alam.
Dalam pertunjukan ini, dialog-dialog tokoh banyak menjelaskan tentang pentingnya melindungi hutan dan bendungan yang menjadi nadi kehidupan bagi masyarakat setempat.
Pendekatan ini berhasil menggabungkan seni pertunjukan dengan literasi ekologis, membuat teater tidak hanya menjadi sarana hiburan, tetapi juga alat edukasi yang mendalam tentang pelestarian alam.
Pelatihan dan Kolaborasi Masyarakat
Salah satu aspek penting dari program ini adalah pelibatan masyarakat lokal, terutama generasi muda, dalam proses kreatif. Para pemuda berperan aktif sebagai aktor, pemain musik, dan manajer produksi.
Program pelatihan yang intensif tidak hanya mengasah keterampilan seni mereka, tetapi juga memperkenalkan mereka pada isu-isu lingkungan yang relevan dengan kehidupan sehari-hari mereka.
Para pemuda di Bili-Bili dilibatkan dalam seluruh tahapan produksi teater, mulai dari latihan, casting, hingga pertunjukan publik. Selain itu, mereka juga diajak untuk mengintegrasikan simbol-simbol ekologis, seperti pohon, air, dan tanah, dalam setiap aspek pertunjukan.
Hal ini bertujuan untuk membuat seni tradisional lebih relevan dengan tantangan kontemporer, terutama dalam menjaga keberlanjutan lingkungan.
Dampak Positif bagi Masyarakat
Hasil yang telah dicapai sangat menggembirakan. Berdasarkan survei yang dilakukan terhadap masyarakt yang menyaksikan selama proses penggrapan pertunjukan, sekitar 80% merasa bahwa pertunjukan ini telah berhasil meningkatkan kesadaran ekologis mereka, terutama mengenai pentingnya pelestarian hutan dan keberlanjutan air.
Elemen-elemen ekologis yang diterapkan dalam kostum, tata panggung, dan musik semakin memperkuat pesan yang ingin disampaikan oleh Sangkutilang.
Selain itu, 35 pemuda dari desa Bili-Bili kini terlibat aktif dalam produksi seni. Ini merupakan langkah besar dalam memperkenalkan kaderisasi seni di tingkat lokal, yang memastikan bahwa tradisi seni akan terus berkembang di tangan generasi muda.
Keberlanjutan dan Rencana ke Depan
Salah satu tujuan utama dari program ini adalah untuk memastikan keberlanjutan program setelah kegiatan berakhir. Samboritta Art telah merencanakan pembentukan tim muda yang akan mengelola kegiatan seni di masa depan, dengan dukungan penuh dari Pemerintah Desa Bili-Bili.
Ke depan, Samboritta Art berharap dapat terus mengembangkan program seni berbasis ekologi yang tidak hanya akan bermanfaat bagi masyarakat Bili-Bili, tetapi juga menjadi model bagi komunitas seni lainnya di Sulawesi Selatan.
Pesan Moral dan Ajakannya
Program Sangkutilang bukan hanya soal seni, tetapi juga gerakan sosial untuk menjaga alam. Melalui teater, pesan penting tentang pelestarian hutan, konservasi air, dan kesadaran ekologis dapat disampaikan dengan cara yang lebih mengena.
Pertunjukan ini mengajak kita untuk lebih peduli dengan lingkungan sekitar kita, karena seni memiliki kekuatan untuk membentuk pemahaman dan mengubah perilaku.
Dengan berpartisipasi dalam Sangkutilang, kita tidak hanya menikmati seni, tetapi juga menjadi bagian dari upaya besar untuk menjaga keberlanjutan alam dan warisan budaya. Saksikan pertunjukan ini dan dukung gerakan literasi ekologis melalui seni!





