Empat Pilar, Satu Rumah Bangsa: Muzakkir Aqil dan Asratilla Jawab Kegelisahan Publik

Anggota Komisi XII DPR RI, Andi Muzakkir Aqil didampingi Asratilla, Direktur Profetik Institute dalam sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan MPR RI

PAREPARE– Usai salat Tarwih, ratusan warga Parepare berkumpul di Rumah Aspirasi Andi Muzakkir Aqil, Jalan Abu Bakar Lambogo, Senin malam, 9 Maret 2026. Agenda sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan MPR RI digelar oleh Anggota Komisi XII DPR RI, Andi Muzakkir Aqil, sebagai momentum penyegaran nilai kebangsaan di bulan Ramadan.

Dalam sambutannya, Muzakkir Aqil menegaskan bahwa kegiatan sosialisasi empat pilar bukan sekadar rutinitas, melainkan bagian dari kewajiban anggota MPR RI sesuai amanat Undang-Undang MD3 Nomor 17 Tahun 2014. Empat pilar yang dimaksud adalah Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika.

Bacaan Lainnya

“Kegiatan ini bukan hanya formalitas, tapi untuk memastikan pemahaman masyarakat terhadap empat pilar tetap segar. Saya berterima kasih kepada panitia dan masyarakat yang konsisten menghadirkan kegiatan ini, apalagi di bulan puasa yang penuh kebersamaan,” ujar Muzakkir.

Ia menambahkan, kegiatan ini akan dievaluasi untuk melihat sejauh mana efeknya terhadap pemahaman masyarakat. “Kalau ada efeknya, pasti bertambah wawasan kita. Materi disampaikan santai saja, seperti belajar bersama,” imbuhnya.

Sosialisasi kali ini menghadirkan Asratilla, Direktur Profetik Institute sekaligus pengamat politik, sebagai pemateri utama. Ia mengibaratkan empat pilar kebangsaan sebagai pondasi rumah bangsa.

– Pancasila sebagai fondasi ideologi,
– UUD 1945 sebagai aturan main,
– NKRI sebagai bentuk rumah,
– Bhinneka Tunggal Ika sebagai perekat keluarga besar bangsa.

“Empat pilar ini ibarat bacaan Al-Fatihah dalam salat diulang, disegarkan, dan jadi ruh kehidupan berbangsa. Tanpa Pancasila, sulit membayangkan eksistensi Indonesia,” jelas Asratilla.

Diskusi semakin hidup ketika warga ikut menyampaikan pandangan kritis. Sofyan Muhammad, salah seorang peserta, mempertanyakan relevansi Pancasila di era media sosial. “Dengan begitu hebatnya pengaruh medsos, apakah Pancasila masih efektif sebagai ideologi? Masyarakat sekarang berpikir apa sebenarnya yang terjadi belakangan ini. Apakah Pancasila masih bisa dikatakan ideologi politik yang menolong masyarakat?” tanya Sofyan.

Senada, Tenri mewakili kaum muda menyoroti sejarah dan posisi Pancasila sebagai dasar negara. “Pancasila itu bukan sekadar pilar, tapi landasan awal terbentuknya negara. Kalau dianggap hanya pondasi rumah besar, itu keliru. Pancasila adalah dasar cerdas bangsa, bukan sekadar tambahan dari UUD 1945,” kritik Tenri.

Menanggapi hal itu, Asratilla menegaskan bahwa relevansi Pancasila tidak pernah hilang. Tantangannya justru ada pada cara sosialisasi. “Pancasila tetap relevan sebagai ideologi bangsa. Yang perlu kita perbaiki adalah strategi sosialisasinya agar lebih efektif, terutama di era digital. Generasi muda butuh pendekatan baru, bukan sekadar cara konservatif seperti penataran zaman dulu,” jelasnya.

Ia menambahkan, Pancasila lahir dari sidang BPUPKI dan pidato Bung Karno, yang kemudian menjadi fondasi NKRI. “Pancasila mengambil hal-hal baik dari berbagai ideologi ada musyawarah mufakat, ada penghargaan terhadap kebebasan individu, ada kemanusiaan yang adil dan beradab. Itu sebabnya Pancasila tetap relevan menghadapi ketidakpastian global,” tegas Asratilla.

Kegiatan yang berlangsung santai namun penuh makna ini ditutup dengan ajakan agar masyarakat tidak hanya memahami empat pilar secara teoritis, tetapi juga mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari. Ramadan, menurut Muzakkir, menjadi momentum tepat untuk menyegarkan komitmen kebangsaan dan memperkuat jiwa nasionalisme.(*)

Pos terkait