PAREPARE- Wakil Ketua Bhayangkari Sulawesi Tengah, Hj. Narni Nasir, mencatat sejarah pribadi dengan meraih gelar Magister Hukum (MH) dari Universitas Muslim Indonesia (UMI) dengan predikat Cumlaude.
Keberhasilan ini menjadi bukti nyata dedikasi serta komitmen tinggi seorang perempuan dalam menapaki dunia pendidikan. Wisuda Periode I UMI digelar khidmat di Hotel Claro, Makassar, pada 16–18 April 2026, lalu.
Ribuan wisudawan dari berbagai program studi turut serta dalam momentum bersejarah ini. Pada hari pertama, sebanyak 1.099 wisudawan dikukuhkan dari total 3.024 peserta tahun ini. Suasana haru dan bangga menyelimuti ruangan, terutama saat nama-nama lulusan terbaik dengan predikat Terpuji dibacakan, termasuk Hj. Narni Nasir.
Narni hadir didampingi suami tercinta, mantan Dirkrimsus Polda Sulsel, Brigjen Pol. Helmi Kwarta Kusuma Putra Rauf, yang kini menjabat sebagai Wakapolda Sulawesi Tengah. Kehadiran sang suami menjadi simbol dukungan keluarga yang kuat di balik keberhasilan akademik tersebut.
Hj. Narni Nasir merupakan putri kelima dari H. Nasir Haddade, salah satu tokoh masyarakat Kota Parepare. Latar belakang keluarga yang berpengaruh ini semakin menegaskan bahwa pencapaiannya bukan hanya kebanggaan pribadi, tetapi juga kebanggaan masyarakat Parepare yang dikenal menjunjung tinggi nilai pendidikan dan pengabdian.
Sejumlah tokoh masyarakat di Kota Parepare pun telah menyampaikan ucapan selamat dan apresiasi setinggi-tingginya atas pencapaian ini. Keberhasilan Hj. Narni Nasir diharapkan menjadi inspirasi bagi kaum perempuan untuk terus berdaya dan mengembangkan diri melalui pendidikan setinggi mungkin.
Gelar Magister Hukum yang diraih bukan sekadar prestasi pribadi, melainkan diharapkan dapat memperkuat peran Hj. Narni Nasir dalam mendukung pengabdian keluarga besar Bhayangkari serta institusi Polri di masa depan.
Selain prestasi akademik, pencapaian ini juga menegaskan pentingnya peran perempuan dalam dunia hukum dan pendidikan. Hj Narni pun menunjukkan bahwa komitmen terhadap ilmu pengetahuan dapat berjalan seiring dengan peran sosial dan keluarga.
Dengan gelar ini, ia diharapkan mampu memberikan kontribusi nyata dalam penguatan kapasitas hukum di lingkungan Bhayangkari serta menjadi teladan bagi generasi muda. Momentum wisuda ini juga menjadi refleksi bahwa pendidikan tinggi bukan hanya tentang gelar, melainkan tentang keberanian menghadapi tantangan, konsistensi dalam belajar, dan semangat untuk terus berkembang.
Dedikasinya menjadi simbol bahwa perempuan Indonesia mampu bersaing dan berprestasi di panggung akademik nasional.(*)






