Garda Bintang Timur Usung Gerakan Ekonomi Kerakyatan, Daenk Jamal: Anak Bangsa Harus Jadi Penggerak Ekonomi Negeri

Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Garda Bintang Timur (GBT), Daenk Jamal.

JAKARTA – Di tengah tantangan ekonomi global dan ketimpangan pembangunan yang masih dirasakan di berbagai daerah, lahir sebuah gerakan baru bernama Garda Bintang Timur (GBT). Organisasi ini hadir sebagai wadah kolaborasi yang bertujuan membangun kemandirian ekonomi bangsa melalui semangat gotong royong, inovasi, dan pemberdayaan masyarakat.

Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Garda Bintang Timur (GBT), Daenk Jamal mengatakan, perjuangan bangsa di era modern tidak hanya dilakukan melalui jalur politik dan pertahanan, tetapi juga lewat penguatan ekonomi rakyat yang mandiri, berdaulat dan berkeadilan.

Bacaan Lainnya

Mengusung tagline “Berdaulat Secara Ekonomi, Merdeka Dalam Karya”, GBT ingin menghadirkan gerakan ekonomi yang berpihak kepada rakyat, khususnya generasi muda dan pelaku usaha daerah yang selama ini belum mendapatkan akses usaha secara merata.

“Indonesia tidak boleh hanya menjadi pasar bagi produk luar. Anak bangsa harus mampu menjadi produsen, inovator, dan penggerak ekonomi di negeri sendiri,” ujar Daenk Jamal di Jakarta, Sabtu (16/05/2026).

Menurutnya, konsep Garda Bintang Timur dibangun dengan menggabungkan semangat patriotisme dan kekuatan ekonomi modern guna menciptakan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

“Perjuangan hari ini bukan hanya soal menjaga kedaulatan wilayah, tetapi juga bagaimana rakyat mampu mandiri secara ekonomi dan berdiri di atas kaki sendiri,” katanya.

Dalam menjalankan visi besarnya, GBT menitikberatkan perjuangan pada tiga pilar utama, yakni kedaulatan produksi, pemerataan akses dan kolaborasi kolektif.

GBT mendorong masyarakat untuk mengembangkan potensi lokal agar memiliki nilai tambah ekonomi lebih tinggi. Produk daerah diharapkan tidak lagi dijual sebagai bahan mentah, tetapi diolah menjadi produk berkualitas yang mampu bersaing di pasar nasional maupun internasional.

“Kami ingin daerah menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru. Potensi lokal harus diolah menjadi kekuatan besar yang mampu mengangkat kesejahteraan masyarakat,” tegasnya.

Selain itu, GBT juga melihat masih banyak pengusaha muda di daerah yang memiliki potensi besar namun terkendala modal, teknologi, dan akses pasar. Karena itu, organisasi ini hadir melalui pola pendampingan, pembinaan dan penguatan jaringan usaha.

“Kami tidak ingin generasi muda hanya menjadi penonton di negeri sendiri. Mereka harus menjadi pelaku utama dalam pembangunan ekonomi nasional,” lanjut Daenk Jamal.

Tidak hanya menawarkan gagasan, Garda Bintang Timur juga menyiapkan sejumlah program konkret untuk mendukung penguatan ekonomi masyarakat, seperti Laboratorium Inovasi Timur, Akademi Wirausaha Merdeka, Lumbung Modal Kolektif, hingga Jejaring Pasar Berdikari.

Program-program tersebut dirancang untuk membantu pelaku usaha lokal berkembang, memperluas pasar, hingga menciptakan lapangan kerja baru di daerah.

“Ekonomi yang sehat bukan hanya tentang keuntungan pribadi, tetapi bagaimana usaha yang dibangun mampu memberi manfaat sosial bagi masyarakat luas,” ujarnya.

Bagi GBT, keberhasilan ekonomi harus berdampak pada peningkatan kesejahteraan masyarakat. Karena itu, organisasi ini juga menekankan pentingnya kepedulian sosial, upah yang adil bagi pekerja, serta percepatan digitalisasi UMKM agar mampu bersaing di era modern.

Daenk Jamal menegaskan, Garda Bintang Timur ingin menjadi gerakan kolektif yang membangun ekosistem usaha berbasis gotong royong dan saling menguatkan.

“Ketika masyarakat memiliki akses ekonomi yang baik, maka pendidikan meningkat, kesejahteraan tumbuh, dan masa depan bangsa menjadi lebih kuat. Itulah semangat yang ingin dibangun Garda Bintang Timur,” tutupnya.(*)

Pos terkait