PAREPARE– Ketua Umum PB PSTI Pusat, Prof. Dr. H. Surianto, menegaskan alasan Parepare dipilih sebagai lokasi pelatnas bukan sekadar kebetulan. “Mayoritas atlet berasal dari Sulawesi Selatan. Parepare lebih dekat dibanding kota lain, aksesnya strategis bagi atlet dari, Gorontalo, hingga Riau. Selain itu, Parepare adalah domisili Ketua Umum, sehingga kami ingin memperkenalkan kota ini sebagai pusat pembinaan kepada atlet yang akan tampil di Asian Games,” ujarnya, Senin, 13 Juli 2026, di Cafe Karajae.
Surianto menambahkan, rekomendasi Kemenpora dan izin langsung dari Wali Kota Parepare memastikan GOR Gelora Mandiri siap dipakai sebagai pusat TC. Dari 200 atlet yang diseleksi, kini tersisa 18 terbaik terdiri atas 9 putra dan 9 putri, ditambah 4 pelatih dan 1 manajer, total 24 orang.
“Insya Allah malam ini sudah komplit, baik atlet maupun pelatih dan manajer. Sebagian sudah tiba di Parepare, sisanya menyusul untuk persiapan TC pada Rabu,” jelasnya.
Soal target, Surianto bicara realistis. “Kami belum bisa menjanjikan medali emas, perak, atau perunggu. Persaingan ketat dengan Vietnam dan Jepang jadi tantangan utama. Tapi di nomor kuadran, kami berharap hasil terbaik. Kami berangkat atas nama merah putih, sehingga dua bulan ini harus dimanfaatkan maksimal agar Indonesia bisa kembali mempersembahkan medali, seperti Asian Games sebelumnya,” ungkapnya.
Agenda try out pun sudah disusun. Setelah World Cup Malaysia, tim akan kembali uji coba di Thailand pada Agustus 2026. “Latihan tidak pernah terputus. Tinggal mengasah strategi menghadapi lawan yang belum ditentukan. Kami harus siap menghadapi siapa pun di Nagoya,” pungkasnya.
Sebanyak 23 atlet dan pelatih resmi dipanggil mengikuti Pemusatan Latihan Nasional (Pelatnas) Sepak Takraw di Kota Parepare, Sulawesi Selatan, sebagai persiapan menuju Asian Games ke‑20 Aichi–Nagoya, Jepang, 19 September hingga 5 Oktober 2026.
Pemanggilan ini menjadi bukti keseriusan Pengurus Besar Persatuan Sepak Takraw Indonesia (PB PSTI) dalam menyiapkan skuad terbaik. Parepare dipilih bukan hanya karena fasilitas GOR Gelora Mandiri yang representatif, tetapi juga karena dukungan masyarakat yang begitu antusias. Atmosfer kota pelabuhan ini diharapkan mampu memompa semangat para atlet untuk tampil maksimal di ajang internasional.
Deretan atlet putera yang dipanggil menunjukkan kombinasi pengalaman dan talenta muda. Nama‑nama seperti Yudha Aswinatama dari Jawa Tengah dan Gelvin A. Usman dari Gorontalo dipercaya sebagai tekong andalan. Sementara Muhammad Hardiansyah Muliang, putra Sulsel, diplot sebagai feeder, memperkuat dominasi daerah asalnya. Kehadiran pelatih senior seperti Dr. Abd. Gani, M.Pd. dan Dr. Iwan Hermawan, M.Pd. menambah bobot teknis dan fisik tim.
Di sektor puteri, dominasi Sulsel kembali terlihat. Kusnelia dari Luwu Utara dan Fujy Anggi Lestari dari Pinrang menjadi tumpuan di posisi tekong dan spiker. Nama‑nama muda seperti Wan Annisa Rachmadi dan Choirunnisa dari Riau menambah variasi serangan. Didampingi pelatih Dr. Ramli, M.Pd. dari Sulsel, tim puteri diharapkan mampu menembus dominasi negara‑negara Asia yang selama ini menguasai cabang takraw.
Kehadiran atlet dari berbagai provinsi memperlihatkan wajah Indonesia yang beragam namun bersatu. Dari Jawa Tengah hingga Gorontalo, dari Riau hingga Sulawesi Selatan, semua berkumpul di Parepare dengan satu tujuan mengibarkan merah putih di panggung Asian Games.(*)






