Di sudut Warkop 588, di antara suara percakapan malam tadi dan hiruk-pikuk berita yang terus mengalir, Andi Ahmad duduk menikmati secangkir kopi susu. Sudah puluhan tahun ia berkecimpung dalam dunia jurnalistik, menyaksikan dinamika media dan organisasi wartawan sejak awal reformasi.
Sebagai salah satu sosok yang telah bergabung dengan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) sejak era reformasi, ia sangat memahami kondisi yang terjadi dalam tubuh organisasi. Tidak hanya soal regenerasi kepemimpinan, tetapi juga perubahan prinsip dan tantangan yang dihadapi wartawan dari waktu ke waktu.
“Dulu, bergabung dengan PWI adalah suatu kebanggaan karena benar-benar mencerminkan profesionalisme wartawan. Tapi sekarang, ada banyak hal yang berubah, termasuk bagaimana seseorang bisa mendapatkan KTA tanpa benar-benar terjun dalam dunia jurnalistik,” ujarnya sambil menatap jauh, seolah menyusuri ingatan masa lalu.
Bagi pemilik media siber infoindomaju itu, PWI bukan sekadar organisasi, tetapi sebuah pondasi bagi wartawan untuk menjaga integritas dan profesionalisme. Namun, ia menyayangkan bahwa di beberapa periode kepengurusan, figur kepemimpinan tidak selalu mencerminkan komitmen yang kuat terhadap dunia pers.
“Jangan sampai ketua bekerja sendirian tanpa melibatkan pengurus lainnya. Tapi apa yang terjadi di Parepare, seringkali hanya tampak seperti organisasi tanpa nyawa,” lanjutnya, menyoroti pentingnya soliditas kepengurusan dalam menjalankan visi PWI.
Sebagai sosok yang telah merasakan naik turunnya organisasi ini, ia juga mengingatkan agar para peserta Konferkot PWI Parepare besok benar-benar mempertimbangkan pemimpin yang bisa membawa perubahan. Rangkap jabatan, menurutnya, adalah salah satu masalah yang harus diperhatikan.
“Pernah ada ketua yang merangkap jabatan sebagai aktivis LSM, dan hasilnya mengecewakan. PWI harus dipimpin oleh wartawan yang benar-benar fokus dan tidak memiliki kepentingan lain,”tegasnya.
Saat kopi di cangkirnya mulai dingin, Andi mengakhiri percakapannya dengan sebuah pesan tajam:
“Saya berharap pemilihan besok dapat berlangsung secara demokratis, dengan mengedepankan persahabatan sebagai wartawan. PWI bukan hanya soal jabatan, tetapi tentang menjaga harkat dan martabat organisasi ini. Kita harus memberi contoh bagi masyarakat bahwa wartawan memiliki integritas, bukan sekadar mencari nama.”
Besok, para wartawan akan berkumpul dan menentukan pemimpin baru PWI Parepare. Di balik pemilihan itu, ada pertanyaan besar yang harus dijawab: Apakah PWI masih menjadi benteng profesionalisme bagi wartawan, atau hanya sekadar simbol tanpa makna?.(*)






