Dinamika Konferensi IX PWI Parepare: Arahan Hendry CH Bangun Redakan Ketegangan

PAREPARE — Konferensi IX Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kota Parepare, yang mengusung tema “Insan Pers Kreatif dan Mandiri di Era Digitalisasi,” sempat diwarnai ketegangan akibat perdebatan terkait keabsahan kandidat. Meskipun atmosfer sempat memanas, semangat demokrasi tetap menjadi poros utama dalam pemilihan Ketua PWI Kota Parepare periode 2025–2028.

Titik krusial perdebatan terjadi saat Ketua Steering Committee (SC), Dulkin Sikki, membacakan Pedoman Dasar dan Pedoman Rumah Tangga (PDPRT) sebagai acuan pemilihan. Sejumlah peserta mengajukan interupsi, mempertanyakan apakah pengalaman kepengurusan sebelumnya menjadi syarat mutlak bagi calon ketua.

Bacaan Lainnya

Menanggapi dinamika tersebut, Wakil Ketua Bidang Organisasi PWI Sulawesi Selatan, H. Abd. Manaf Rachman, memberikan klarifikasi langsung kepada forum setelah berkomunikasi dengan Ketua Umum PWI Pusat, Hendry CH Bangun. Ia menegaskan bahwa syarat pengalaman kepengurusan bukanlah keharusan dalam pemilihan di tingkat kota, meredakan kekhawatiran yang sempat muncul.

Selain itu, muncul diskusi terkait hak pilih anggota dengan Kartu Tanda Anggota (KTA) Biasa yang berstatus Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK). “Mereka ini bukan Aparatur Sipil Negara (ASN), maka tetap berhak memilih,” ujar Abd. Manaf, menegaskan keabsahan partisipasi mereka dalam pemilihan usai mendengarkan penjelasan Ketua Umum PWI Pusat melalui sambungan telepon yang didengarkan seluruh peserta konferensi.

Setelah berbagai klarifikasi diberikan, peserta konferensi akhirnya mencapai kesepakatan bahwa proses pemilihan tetap mengacu pada PDPRT sebagai aturan utama organisasi. Dengan suasana yang kembali kondusif, pemilihan berjalan lancar dan demokratis, mencerminkan semangat kebersamaan dalam menentukan arah masa depan PWI Parepare.

Konferensi ini bukan sekadar ajang pemilihan pemimpin baru, tetapi juga menjadi momentum untuk membangun PWI Parepare yang lebih solid, adaptif terhadap perkembangan teknologi, dan semakin berkomitmen terhadap profesionalisme jurnalistik. Harapan besar tertuju pada kepemimpinan mendatang agar dapat membawa organisasi menuju era yang lebih progresif dan responsif terhadap dinamika media yang terus berkembang.(*)

Pos terkait