JAKARTA– Kepolisian Republik Indonesia kembali mengukir langkah strategis dalam rotasi dan promosi jajaran perwira tinggi. Melalui Surat Telegram Rahasia Nomor ST/1764/VIII/KEP./2025, Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo menunjuk Komjen Pol Dedi Prasetyo sebagai Wakil Kepala Kepolisian Republik Indonesia (Wakapolri), menggantikan Komjen Ahmad Dofiri yang telah memasuki masa pensiun.
“Rotasi ini merupakan bentuk pembaruan kepemimpinan dan penguatan struktur organisasi demi menghadapi dinamika penegakan hukum yang semakin kompleks,” ungkap sumber internal Mabes Polri.
Komjen Dedi sebelumnya menjabat sebagai Inspektur Pengawasan Umum (Irwasum) Polri sejak November 2024. Pengalamannya yang panjang di bidang reserse, komunikasi publik, dan kepemimpinan regional menjadikannya figur strategis di tubuh Polri.
Ia juga dikenal sebagai jenderal bergelar profesor dan pemegang rekor MURI atas kiprahnya menulis buku terbanyak di kalangan kepolisian.
Mutasi Jabatan Strategis
Tak hanya posisi Wakapolri, Kapolri juga merombak sejumlah jabatan strategis lainnya:
– Komjen Pol Wahyu Widada diangkat menjadi Irwasum Polri, menggantikan Komjen Dedi. Sebelumnya, Wahyu menjabat sebagai Kabareskrim.
– Komjen Pol Syahardiantono, yang sebelumnya Kaba Intelkam, kini dipercaya sebagai Kabareskrim Polri.
– Komjen Pol Fadil Mohammad Imran dimutasi dari Kabaharkam menjadi Astamaops Kapolri.
– Irjen Pol Asep Edi Suheri menjabat Kapolda Metro Jaya, menggantikan posisi sebelumnya sebagai Wakabareskrim.
– Kombes Pol Gidion Arif Setyawan meninggalkan jabatan Kapolrestabes Medan dan dipromosikan sebagai Waka Polda Sulawesi Utara.
Namun, dalam telegram tersebut, belum diumumkan siapa yang akan menggantikan Gidion sebagai Kapolrestabes Medan.
Jejak Pengabdian
Lahir di Magetan, Jawa Timur, pada 26 Juli 1968, Komjen Dedi adalah lulusan Akademi Kepolisian (Akpol) tahun 1990. Kariernya mencakup tugas sebagai Kapolda Kalimantan Tengah, Karopenmas Divisi Humas Polri, hingga Kadiv Humas Polri menunjukkan keahliannya dalam memadukan keamanan, komunikasi, dan edukasi publik.
Penunjukannya sebagai Wakapolri bukan sekadar pergantian struktural, tetapi juga sinyal keberlanjutan kepemimpinan berbasis pengetahuan, reformasi internal, dan komunikasi transparan kepada masyarakat.(*)






