Haul Puang Towa: Menghidupkan Warisan Dakwah dan Spirit Islam di Tanah Mandar

CAMPALAGIAN — Ratusan orang dari berbagai penjuru Sulawesi Barat dan luar daerah memadati Bonde Campalagian, Sabtu, 23 Agustus 2025, dalam rangka memperingati Haul Almukarram Al-Habib Sayyid Alwi bin Abdullah bin Sahl, atau yang lebih dikenal dengan gelar Puang Towa. Sosok ulama karismatik ini dikenang sebagai pelopor dakwah Islam yang lembut namun berprinsip kuat, serta menjadi guru dari KH. Muh. Tahir Imam Lapeo.

Jejak Dakwah yang Menyatu dengan Sejarah Mandar

Puang Towa tiba di Mandar pada era 1920-an, dibawa oleh pelaut asal Manjopai, Tinambung, yang bertemu dengannya di Sumbawa, NTB. Lahir tahun 1835 dari ayah keturunan Rasulullah, Sayyid Abdullah bin Sahl, dan ibu asal Lasem, Jawa Tengah, Raden Ayu Habibah, Puang Towa membawa warisan keilmuan dan spiritual yang mendalam.

Tiga titik utama dakwahnya di Mandar Manjopai, Pambusung, dan Campalagian menjadi pusat penyebaran Islam yang mengakar hingga kini. Strategi dakwahnya yang mengedepankan pendekatan budaya dan kelembutan hati membuat ajaran Islam diterima luas oleh masyarakat Mandar.

Haul Sebagai Ruang Spiritualitas dan Refleksi

Haul tahun ini bukan sekadar ritual tahunan, melainkan momentum spiritual untuk mengenang keteladanan Puang Towa. Ketua Panitia Haul, Sayyid Hasal bin Sahl, cucu dari garis keturunan langsung Puang Towa, menegaskan bahwa acara ini bertujuan mewariskan nilai-nilai dakwah dan akhlak mulia kepada generasi muda.

“Harapan kami, generasi sekarang dapat menjadikan Puang Towa sebagai suri teladan dalam menyiarkan Islam dengan cinta, kelembutan, dan keteguhan prinsip,” ujar Hasal.

Pemerintah Daerah: Ulama Adalah Pilar Peradaban

Bupati Polman, H. Samsul Mahmud, S.IP, yang hadir langsung dalam acara tersebut, menyampaikan apresiasi mendalam terhadap peran ulama dalam membentuk karakter masyarakat.

“Ulama seperti Puang Towa telah membekali umat dengan syariat dan aqidah yang kuat. Jasa mereka harus terus dihargai dan dijadikan panutan dalam kehidupan beragama dan bermasyarakat,” tegasnya.

Ia juga menyinggung bahwa Polman sejak dahulu dikenal sebagai pusat syiar Islam di Mandar, dengan tokoh-tokoh besar seperti KH. Muh. Tahir Imam Lapeo, KH. Hasan Yamani, dan KH. Muh. Saleh, yang semuanya memiliki kontribusi monumental dalam membangun peradaban Islam di tanah Mandar.(*)

Pos terkait