JAKARTA– Di tengah suasana hangat dan penuh haru, Menteri Agama Nasaruddin Umar menutup rangkaian Penais Award 2025 dengan sebuah pesan yang menggugah: bahwa ketulusan dan pengabdian adalah cahaya yang tak selalu terlihat, namun selalu berdampak. Malam itu, bukan sekadar seremoni. Ia adalah panggung bagi para penyuluh agama Islam dan kepala daerah yang telah bekerja dalam diam, menyentuh kehidupan masyarakat dengan bimbingan rohani, edukasi sosial, dan semangat kebersamaan.
> “Jangan lihat apa yang diperoleh dan siapa yang memberikan. Tuhan dan malaikat menjadi saksi bahwa kita telah berjasa mengangkat martabat kehidupan masyarakat di pelosok-pelosok Indonesia,” ujar Menag, disambut tepuk tangan hadirin.
Penais Award 2025, yang digagas oleh Direktorat Penerangan Islam, Ditjen Bimas Islam, menjadi ajang apresiasi bagi para penyuluh agama Islam dari 24 provinsi. Dari ratusan peserta, terpilih 90 nominasi yang bersaing dalam sembilan kategori penghargaan. Mereka adalah wajah-wajah inspiratif yang membawa dakwah ke ranah ekonomi, hukum, lingkungan, hingga kesehatan masyarakat.
Para Pemenang Penais Award 2025
– Pemberdayaan Ekonomi Umat: Shofwah Tafasir, S.Ud., M.Ag. (Jawa Barat)
– Pendampingan Hukum: Sofyan Hadi, S.HI. (Jawa Timur)
– Anti Korupsi: Herawati Suyatno Putri, S.H.I., S.H. (Jawa Tengah)
– Penguatan Moderasi Beragama: Mc. Mifrohul Hana, S.E.Sy. (Jawa Tengah)
– Metode Penyuluhan Baru: Imamul Muttaqin, S.Ag. (Sumatra Barat)
– Pendampingan Kelompok Rentan: Riska Duduti, S.Sos.I., MH. (Gorontalo)
– Kesehatan Masyarakat: Khotimatul Husna, S.Ag., M.H. (DI Yogyakarta)
– Literasi Al-Qur’an: Sastra Yunita, S.Sos.I (Sulawesi Barat)
– Pelestarian Lingkungan: Sri Eliyati, S.Pd. (Kalimantan Barat)
Untuk kategori khusus, penghargaan Lifetime Achievement diberikan kepada:
– Abu Bakar Siddiq – Peningkatan ekonomi umat
– Marliana – Pengentasan kemiskinan
– Arief Zamroni – Ketahanan pangan
Penghargaan untuk Kepala Daerah:
Sebanyak 43 kepala daerah, baik bupati maupun wali kota, turut menerima penghargaan atas dukungan mereka terhadap kerja penyuluh agama. Pemerintah daerah dinilai telah menciptakan ruang dan kebijakan yang memungkinkan penyuluh hadir lebih dekat dengan masyarakat, sehingga manfaat dakwah dan layanan keagamaan dapat dirasakan secara luas.
Khusus dari Provinsi Sulawesi Selatan, penghargaan diberikan kepada beberapa kepala daerah yang dinilai aktif mendukung kerja penyuluh agama di wilayahnya. Mereka adalah:
– Kabupaten Kepulauan Selayar
– Kabupaten Luwu Timur
– Kabupaten Wajo
– Kabupaten Gowa
– Kota Parepare
Dalam pidatonya, Menteri Agama menegaskan bahwa tugas penyuluh agama bukan hanya menyampaikan ajaran, tetapi juga memahami kondisi sosial dan psikologis masyarakat. Ia menyebut penyuluhan rohani sebagai kebutuhan mendasar yang sering kali luput dari perhatian pembangunan fisik.
“Kebutuhan masyarakat bukan hanya materi, bukan hanya pembangunan jalan dan sekolah, tetapi mereka membutuhkan penyuluhan rohani dan kepuasan batin,” tegas Menag.
Ia menutup dengan pesan yang menyentuh: “Semua yang keluar dari lubuk hati yang sangat dalam, itulah yang akan mendarat ke hati yang sangat dalam.”
Penais Award 2025 mengusung semangat transformasi layanan penyuluhan agama Islam di seluruh Indonesia. Tema “Bergerak, Berinovasi dan Berdampak” menjadi refleksi atas kerja nyata para penyuluh yang tak hanya menyampaikan pesan, tetapi juga menghadirkan solusi.
Acara ini turut dihadiri oleh Dirjen Bimas Islam Abu Rokhmat, Direktur Penerangan Islam Ahmad Islam, para kepala daerah, staf khusus Kemenag, pejabat eselon 2, serta para penyuluh agama dari berbagai daerah.(*)






