Di tengah geliat pembangunan energi nasional, PT Pertamina Patra Niaga Fuel Terminal Parepare menyalakan obor perubahan dari ladang-ladang kecil di Kelurahan Watang Bacukiki. Bukan lewat pipa dan kilang, melainkan lewat tangan-tangan petani yang kini menanam lebih dari sekadar benih, mereka menanam harapan, inovasi, dan kemandirian.
Lewat program pemberdayaan masyarakat yang menyentuh langsung isu lingkungan dan ketahanan pangan, lahirlah Kelompok Tani Tangguh sebuah gerakan yang menjadikan pertanian sebagai laboratorium hidup. Di sinilah teknologi energi terbarukan, pertanian berkelanjutan, dan semangat gotong royong berpadu dalam satu sistem terpadu.
Salah satu inovasi kunci adalah pemanfaatan slurry limbah cair kaya nutrisi dari reaktor biogas. Slurry ini diolah menjadi pupuk cair organik dan dialirkan langsung ke akar tanaman melalui sistem irigasi tetes. Hasilnya? Efisiensi air meningkat, tanah tetap subur meski kemarau panjang, dan petani tak lagi bergantung pada pupuk kimia yang mahal dan merusak ekosistem.
“Dulu kami hanya berharap pada musim hujan. Sekarang, dengan irigasi tetes dan pupuk slurry, panen tetap jalan meski kemarau,” ungkap Syamsuddin, salah satu anggota Kelompok Tani Tangguh.
Program ini tak berhenti di ladang. Limbah pertanian dimanfaatkan sebagai pakan ternak, sementara kotoran ternak diolah kembali menjadi biogas dan slurry. Siklus produksi ini menciptakan sistem zero waste farming yang hemat biaya dan ramah lingkungan. Air, energi, pupuk, dan pakan semuanya berasal dari dalam sistem. Petani tak lagi bergantung pada input eksternal yang tak berkelanjutan.
Dampaknya terasa nyata:
– Limbah organik berkurang
– Air digunakan lebih efisien
– Ketergantungan pada energi fosil menurun
– Peluang usaha baru terbuka
– Produktivitas meningkat
– Biaya produksi menurun
Gerakan ini selaras dengan enam Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), mulai dari penghapusan kelaparan (SDG 2), efisiensi air (SDG 6), energi bersih (SDG 7), konsumsi bertanggung jawab (SDG 12), aksi iklim (SDG 13), hingga pelestarian ekosistem darat (SDG 15).
Di Watang Bacukiki, pertanian bukan lagi sekadar urusan panen. Ia telah menjadi ruang belajar, ruang hidup, dan ruang harapan. Kelompok Tani Tangguh membuktikan bahwa ketika teknologi, semangat lokal, dan keberpihakan pada lingkungan bersatu, maka perubahan bukan hanya mungkin ia sedang tumbuh. Satu tetes irigasi, satu genggam slurry, satu langkah kemandirian di setiap musim tanam.(*)






