Ketika Teater Bertemu Teknologi: Mahasiswa UNM Bawa Naskah Lakon ke Dunia Digital

Era digital sekarang, batas antara panggung teater dan layar multimedia semakin kabur. Seni pertunjukan yang dahulu hanya hidup di atas panggung kini berevolusi menjadi karya audio visual yang bisa dinikmati di gawai siapa pun.

Inovasi ini tengah digerakkan oleh mahasiswa Fakultas Seni dan Desain (FSD) Universitas Negeri Makassar (UNM) melalui program pengabdian masyarakat bertajuk “Peningkatan Kompetensi Mahasiswa dalam Adaptasi Naskah Lakon sebagai Media Interdisipliner dalam Seni Pertunjukan dan Visual.”

Bacaan Lainnya

Program ini melibatkan dua program studi Pendidikan Seni Drama, Tari, dan Musik (Sendratasik) serta Desain Komunikasi Visual (DKV) yang berkolaborasi untuk mengubah naskah lakon teater menjadi berbagai karya digital seperti drama radio, motion grafis, dan desain promosi. Kegiatan ini tidak hanya menjadi ajang pelatihan, tetapi juga ruang belajar lintas disiplin yang mempertemukan dramatik dan visual dalam satu proses kreatif terpadu.

Menghapus Sekat antara Seni dan Desain

Selama ini, mahasiswa Sendratasik lebih banyak berkutat pada panggung dan naskah teater, sementara mahasiswa DKV berfokus pada desain dan animasi. Melalui program ini, keduanya saling belajar: mahasiswa seni memahami bahasa visual digital, sementara mahasiswa DKV mempelajari struktur dramatik dan storytelling.

“Awalnya kami berpikir dunia teater dan desain itu jauh berbeda. Tapi ternyata saat kami mengerjakan proyek ini, keduanya saling melengkapi,” ungkap salah satu peserta dari Program Studi DKV.

Kolaborasi ini melahirkan karya yang menarik perhatian. Dari panggung teater adaptif hingga motion grafis yang menghidupkan dialog lakon, mahasiswa berhasil menampilkan transformasi seni tradisional ke ranah digital tanpa kehilangan nilai artistiknya.

Belajar Seperti di Dunia Industri

Pendekatan kegiatan ini meniru sistem kerja profesional di industri kreatif. Mahasiswa dibagi ke dalam tim lintas bidang: penulis naskah, sutradara, desainer, animator, dan editor. Mereka menggunakan perangkat lunak profesional seperti Final Draft, Adobe Audition, After Effects, dan Blender untuk memproduksi karya.

“Mahasiswa tidak hanya belajar teori, tapi juga mengalami bagaimana rasanya bekerja dalam tim kreatif seperti di dunia industri,” ujar salah satu dosen pembimbing.

Melalui simulasi kerja nyata ini, mahasiswa belajar menghadapi tenggat waktu, menyusun konsep produksi, serta menyelesaikan proyek dengan standar kualitas yang tinggi.

Dari Kampus ke Masyarakat

Puncak kegiatan diwujudkan melalui Festival Film Pendek dan Pameran Seni Digital di Fakultas Seni dan Desain UNM. Karya mahasiswa dipamerkan kepada publik dan komunitas kreatif Makassar. Tidak hanya itu, hasil kegiatan juga dipublikasikan melalui media sosial dan laman resmi fakultas agar bisa diakses secara luas.

Respon masyarakat sangat positif. Banyak yang mengapresiasi upaya mahasiswa UNM dalam membawa seni pertunjukan ke ranah digital tanpa kehilangan ruhnya.

“Karya mereka menunjukkan bahwa seni tradisional bisa tetap hidup dan relevan di era teknologi,” komentar salah satu pengunjung pameran.

Melahirkan Generasi Kreatif Baru

Program ini tidak berhenti di satu tahap. Fakultas Seni dan Desain UNM berencana menjadikannya bagian dari kurikulum reguler dan membentuk Creative Production Hub  pusat produksi kreatif yang akan mempertemukan mahasiswa, dosen, dan pelaku industri dalam proyek seni digital berkelanjutan.

Menurut ketua tim pengabdian, program ini adalah contoh nyata bagaimana universitas bisa menjadi jembatan antara dunia pendidikan dan industri kreatif. “Kami ingin mahasiswa tidak hanya menjadi seniman, tapi juga creative worker yang siap bersaing di dunia profesional,” ujarnya.

Dengan semangat kolaborasi dan inovasi, mahasiswa Sendratasik dan DKV UNM menunjukkan bahwa di tangan generasi muda, teater tidak lagi terbatas pada panggung ia bisa hadir di layar digital, di genggaman, dan di hati penikmat seni di seluruh Indonesia.

Penulis
Dr. Prusdianto, M. Sn.
Dosen Pendidikan Seni Drama, Tari dan Musik
Fakultas Seni dan Desain
Universitas Negeri Makassar

Pos terkait