PAREPARE – Jelang pelaksanaan Konferensi Provinsi (Konferprov) PWI Sulsel, Selasa 2 Juni 2026 di Hall Lantai 2 Gedung Fajar Graha Pena Makassar, suhu politik organisasi wartawan kian meninggi. Dua pasangan calon Ketua dan Ketua DKP PWI Sulsel periode 2026–2031 resmi bertarung. H Suwardi Thahir – Dahlan Abubakar versus Amrullah Basri – Abd Jurlan.
Pertarungan ini bukan sekadar perebutan kursi, melainkan perebutan simpati 305 pemilih tetap yang tersebar di seluruh Sulawesi Selatan.
Basis Ajatappareng Plus Pangkep: “Benteng Hijau” Suwardi Thahir
Wilayah Ajatappareng (Barru, Parepare, Sidrap, Pinrang, Enrekang) ditambah Pangkep disebut-sebut sebagai basis kuat Suwardi Thahir. Kedekatan Suwardi sebagai mantan Ketua PWI Ajatappareng dan posisinya sebagai Komisaris Fajar Group membuat dukungan di enam daerah ini lebih condong ke arahnya.
Pak ST, sapaan akrab Suwardi, bukan nama asing. Ia pernah menjabat Wakil Ketua PWI Sulsel di era H. Agussalim, serta aktif sebagai Asesor Uji Kompetensi Wartawan (UKW) Dewan Pers. Figur humanis yang merangkul tanpa memandang strata sosial ini menegaskan, pencapaian PWI hari ini adalah buah kerja keras seluruh ketua dan pengurus, baik masa kini maupun pendahulu.
Koordinator wilayah Ajatappareng plus Pangkep, Ade Cahyadi, menegaskan dukungan ke Suwardi Thahir tak perlu diragukan.
“Alhamdulillah dari enam daerah tersebut, dukungan ke Pak ST lebih mendominasi dari kandidat lainnya,” ujar pemegang kartu UKW Utama pertama di Ajatappareng itu.
Sahabat Suwardi Thahir
Sebagai bentuk dukungan nyata, telah dibuat baju dengan tagline “Sahabat Suwardi Thahir” berwarna dusty green. Warna ini dipilih bukan asal, melainkan simbol ketenangan, kesetiaan, sekaligus semangat baru yang ingin dibawa Suwardi dalam kepemimpinannya.
Atribut ini menjadi penanda konsolidasi dukungan yang semakin solid di akar rumput. Meski konferensi digelar di Graha Pena yang disebut sebagai “kandang” salah satu kandidat, panitia menegaskan netralitas tetap dijaga.
Lokasi dipilih karena faktor kapasitas dan fasilitas, bukan untuk memberi keuntungan. Publik berharap pemilihan berjalan sesuai asas demokrasi tanpa dinodai kepentingan sempit.
Momentum Perbaikan Marwah Organisasi
Di luar dinamika dukungan, sejumlah wartawan senior mengingatkan agar Konferprov tidak sekadar jadi ajang perebutan kursi, melainkan momentum memperbaiki marwah organisasi. “PWI bukan hanya papan nama, tapi rumah besar wartawan. Jangan sampai rumah ini retak karena ambisi sesaat,” ujar Ibrahim Manisi wartawan senior di wilayah Ajatappareng.
Ungkapan itu menjadi pengingat bahwa demokrasi internal harus dijaga, sebab publik menanti PWI tampil sebagai teladan etika dan profesionalisme. Dalam bahasa Bugis, “mappadeceng” bukan sekadar slogan, melainkan komitmen nyata untuk menegakkan kebaikan di tengah riuhnya kontestasi.
Sejak agenda kabar pemilihan, di Ajatappareng mencuat istilah yang beredar di kalangan wartawan adalah “Iyana’e cappoe” ungkapan Bugis yang berarti pilihan sudah pasti. Pesan ini jelas, dukungan mereka jatuh pada Suwardi Thahir.(*)






