Tak Libatkan Kontraktor Lokal, Dua Mega Proyek di Parepare Diduga Dikerjakan Perusahaan Bermasalah

Ist. Pembenahan stadion Gelora BJ Habibie pada Tahun 2023

PAREPARE, KILASSULAWESI– Dua pembangunan mega proyek yang masuk di Kota Parepare, sejauh ini belum mampu melibatkan kontraktor lokal. Faktanya, proyek dengan anggaran puluhan hingga ratusan miliar masih didominasi rekanan dari luar.

Hal itu pun berbanding terbalik dengan pernyataan yang kerap dilontarkan Menteri PUPR untuk memberikan ruang keterlibatan kontraktor dan konsultan lokal pada proyek nasional di daerah.

Bacaan Lainnya

Di Kota Parepare, tercatat ada dua pembangunan mega proyek yakni Pembangunan Lansekap Gedung Laboratorium Terpadu ITH senilai Rp 53,2 miliar. Dan proyek Rehabilitasi dan Renovasi Stadion Gelora BJ Habibie Rp 129,3 miliar lebih.

Ketua Gapensi Kota Parepare, Idham Nusu tak membantah kondisi tersebut. ” Seharusnya memang dalam pelaksanaan mega proyek tersebut, agar ikut melibatkan kontraktor lokal. Maksimal pekerjaan minor agar kiranya diperuntukan bagi kontraktor lokal,” jelasnya.

Idham pun mencotohkan tidak adanya keinginan melibatkan kontraktor lokal dimana pada proyek Institute Teknologi Habibie (ITH). Pada saat penyusunan perencanaan soal pengerjaan Talud dan Jalan tak dipisahkan, malah digabung menjadi satu hingga anggaranya besar. ” Dampaknya, tidak ada kontraktor lokal yang bisa menawar. Hingga perusahaan besar yang masuk,” ungkapnya, Ahad, 3 Maret 2024, kemarin.

Salah satu pemerhati yang engan namanya dimediakan menuturkan,
proyek-proyek besar kembali dimenangkan rekanan dari luar Parepare dikarenakan dalam lelang tidak ada jaminan siapa yang bakal memenangkan proyek.

Pasalnya, lelang dilaksanakan secara terbuka. Sehingga siapa saja bisa melakukan penawaran dan berpotensi memenangkan lelang. Jangkauan Layanan Pengadaan Secara Elektronik (LPSE) itu mencakup nasional. Jadi, lelang bisa diikuti oleh kontraktor dari seluruh Indonesia.

Maka, setiap rekanan memiliki kesempatan sama untuk memenangkan tender, baik kontraktor lokal maupun luar. Dan harus diakui, rata-rata rekanan lokal kalah bersaing dalam memenangkan proyek-proyek besar.

” Namun, kiranya pengerjaan proyek-proyek infrastruktur kecil bisa dikerjakan kontraktor lokal. Sehingga, uang proyek puluhan hingga ratusan miliar bersumber dari APBN, bisa juga dinikmati masyarakat Parepare. Termasuk tenaga kerja,”tegasnya.

Sayangnya mekanisme ideal itu tak mungkin berjalan, sebab lelang berlaku terbuka. Satu-satunya proyek yang bisa diprioritaskan kepada kontraktor lokal adalah proyek-proyek penunjukan langsung (PL). Karena PL, nilainya pun kecilnya, antara Rp 100 hingga 200 juta.

Dari penelusuran Kilassulawesi.com, dua megaproyek tersebut dikerjakan oleh PT Murni Konstruksi Indonesia untuk proyek ITH dari Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan. Dimana dari data yang dihimpun, perusahaan ini dinilai memiliki kinerja yang tidak baik dalam proyek oleh Dinas Pendidikan DKI Jakarta.

Dan PT Usaha Subur Jakarta pada proyek Kementrian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat untuk rehabilitasi dan renovasi Stadion Gelora BJ Habibie. Dimana perusahaan tersebut diketahui adalah pihak yang mengerjakan proyek Pembangunan Stadion Barombong, Makassar yang mangkrak hingga saat ini.

Hingga berita ini disiarkan, tak satupun pihak terkait yang bisa dimintai keterangan akan kondisi tersebut.(*)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *