JAKARTA, KILASSULAWESI – Persatuan Sepaktakraw Indonesia (PSTI) dengan Ketua Umum Asnawi Abd. Rahman tetap berencana melaksanakan Munas pada 26-29 Desember 2024 di ISTC Sukabumi, yang bersamaan dengan libur nasional Natal dan Tahun Baru.
Langkah ini dianggap tidak menghargai umat kristiani yang akan melaksanakan ibadah, meskipun KONI Pusat telah mencabut rekomendasi pelaksanaan Munas melalui surat nomor: 1978/UMM/XII/2024 tanggal 20 Desember 2024.
PB.PSTI dinilai mengabaikan otoritas KONI Pusat, yang merupakan pembina prestasi cabang olahraga dan pengeluarkan Surat Keputusan cabang olahraga di Indonesia.
Tindakan ini dianggap mencederai kredibilitas KONI Pusat dan berpotensi menjadi preseden buruk bagi cabang olahraga lainnya. KONI Pusat diharapkan segera mengambil tindakan tegas, termasuk memberikan sanksi pembekuan terhadap PB.PSTI dan membentuk caretaker untuk menyelesaikan masa kepengurusan PB.PSTI periode 2019-2025 dengan Ketua Umum Asnawi Abd. Rahman.
Wacana Munas Tandingan
Informasi yang diperoleh wartawan menyebutkan bahwa lebih dari separuh anggota PSTI seluruh Indonesia siap menggelar Munas tandingan. Dukungan mayoritas anggota PSTI kepada calon Ketua Umum H. Surianto untuk periode 2025-2029 semakin menguat, sementara Munas versi Asnawi hanya akan dihadiri oleh segelintir pengprov PSTI dengan kepengurusan yang sudah kadaluwarsa.
Wacana Munas tandingan ini dinilai merugikan pembinaan atlet sepaktakraw di Indonesia akibat ambisi kekuasaan segelintir pihak. Menurut sumber, Munas PB PSTI melanggar aturan organisasi dan AD/ART PSTI serta AD/ART KONI, dimana Ketua Umum hanya boleh menjabat dua periode kecuali didukung secara aklamasi oleh pemegang hak suara tanpa ada calon lain.
Asnawi, yang tidak mendapat dukungan dari pengprov PSTI seluruh Indonesia, kini menghadapi calon lain, H. Surianto, yang juga Ketua Umum PSTI Pengprov Sulawesi Selatan dan mantan pemain sepaktakraw. H. Surianto menegaskan komitmennya untuk memajukan prestasi sepaktakraw di Indonesia.
”Tangan saya ini pernah patah akibat bermain sepaktakraw, jadi komitmen saya untuk memajukan prestasi sepaktakraw di Indonesia tidak perlu diragukan lagi,” ujar H. Surianto.
Surianto juga memaparkan visi misinya untuk membawa sepaktakraw ke tingkat dunia dengan membuat liga sepaktakraw, kejuaraan nasional setiap tahun, dan program untuk junior dan senior yang didukung oleh seluruh pemangku kepentingan sepaktakraw.
Dengan memanasnya situasi ini, keputusan akhir tetap berada di tangan KONI Pusat untuk menegakkan aturan dan mengembalikan kredibilitas organisasi demi kemajuan olahraga sepaktakraw di Indonesia.(*)






