JAKARTA— Sebuah harapan besar tengah tumbuh di dua titik strategis, Sentra Handayani Jakarta dan Sentra Terpadu Pangudi Luhur Bekasi. Program Sekolah Rakyat yang digagas oleh Presiden Prabowo secara resmi memulai tahap simulasi, membawa optimisme baru bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu.
Dengan slogan “Pendidikan adalah Harapan Masa Depan”, simulasi ini menjadi langkah awal dalam menghadirkan pendidikan yang inklusif dan transformatif.
Uji coba tersebut menyentuh berbagai aspek penting: mulai dari registrasi peserta, pembagian kamar asrama, cek kesehatan, talent mapping, pengenalan sistem pembelajaran berbasis Learning Management System (LMS), hingga pengenalan tata tertib sekolah.
Program ini dibangun di atas tiga prinsip utama:
– Memuliakan Kaum Dhuafa: Menyediakan akses pendidikan berkualitas bagi anak-anak dari keluarga prasejahtera.
– Menjangkau yang Tidak Terjangkau: Menutup jurang keterbatasan dengan menjangkau anak-anak yang selama ini tersisih dari sistem pendidikan formal.
– Memungkinkan yang Tidak Mungkin: Mengubah batasan menjadi peluang, menghadirkan masa depan yang bisa diraih.
Lebih dari sekadar tempat belajar, Sekolah Rakyat menempatkan kesejahteraan siswa sebagai fondasi utama. Setiap peserta mendapatkan perlengkapan lengkap tas, seragam, sepatu, perlengkapan ibadah, hingga alat tulis simbol kesiapan mereka untuk memulai babak baru dalam hidup.
Menteri Sosial Saifullah Yusuf meminta dukungan publik agar program ini berjalan lancar. Ia mengumumkan bahwa Sekolah Rakyat akan mulai aktif di 63 lokasi pada 14 Juli mendatang, dengan sarana dan prasarana yang telah disiapkan secara menyeluruh.
“Ini bukan sekadar pendidikan. Ini adalah revolusi sosial yang menyentuh hati nurani bangsa,” ujar Saifullah.
Dengan semangat yang berkobar, Sekolah Rakyat menjadi lambang bahwa masa depan anak bangsa tak lagi ditentukan oleh latar belakang ekonomi, melainkan oleh kesempatan yang setara untuk tumbuh dan bermimpi.(*)






