Hiasi Hidupmu dengan Sholawat Nabi, Rasakan Keajaibannya!

Shalawat memiliki akar kata yang sama dengan shalat, suatu ibadah yang sungguh mulia dan memiliki keutamaan serta keistimewaan. Jika Shalat identik diartikan sebagai ibadah penyembahan hamba kepada Tuhan (“uluhiyyah“), adapun Shalawat adalah diperuntukkan kepada Nabi utusan Tuhan. Shalawat sebagai penghormatan terhadap Nabi tersebut bahkan dilakukan oleh Allah Tuhan semesta alam beserta para malaikat-malaikatNya.

Oleh: Nazwar, S. Fil. I., M. Phil. (Penerasi Jogja Sumatera)

Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman: “Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya berselawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, berselawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya” (Q. S. Al-Ahzab: 56).

Betapa agung, bershalawat sungguh suatu amalan mulia. Bahkan terdapat ulama dari kalangan Syarif, mengidentikkan dzikir (sehari-harinya) dengan Shalawat. Artinya, keutamaan zikir dengan lafal fasih dan hati yang khusyu’ serta memahami arti/makna yang terkandung tentu adalah terbaik.

Namun, jikapun tidak sepenuhnya terpenuhi, semisal pada kondisi tertentu berada dalam kondisi hiruk-pikuk yang tak terhindarkan, maka sebagaimana pesan baik seorang sufi (ahli zikir) bahwa berzikir lebih baik dan memungkinkan tidak terlepasnya seseorang dalam mengucapkan zikir tersebut, demikian juga salawat.

Hadits yang mengungkap keutamaan shalawat bisa dinukil dari Kitab “Mukhtashar” Ihyaa’ ‘Ulumuddin karya al-Ghazaly, diriwayatkan bahwa pada suatu hari Nabi SAW., datang dengan wajah gembira kemudian beliau berkata, “datang saudaraku Jibril AS., kepadaku, lalu berkata: hai Muhammad, apakah engkau tidak senang bila seseorang dari umatmu mengucap shalawat atas dirimu sekali dan aku balas dengan shalawat sepuluh kali baginya.”

Nabi SAW., bersabda yang artinya: “barangsiapa mengucap salawat atas diriku, maka malaikat mendoakan baginya selama ia mengucap salawat bagiku. Maka terserah hamba pada waktu itu, apakah ia mengucap sedikit atau banyak.”

Nabi SAW., bersabda yang artinya: “barangsiapa mengucapkan salawat bagiku dalam sebuah kitab, maka para malaikat selalu memohon ampun baginya selama namaku tercantum dalam kitab itu.”

Belum lagi, secara khusus Nabi menyuruh kita umatnya untuk memperbanyak shalawat di hari Jum’at. Maka kesempatan tersebut untuk tidak dilewatkan begitu saja agar dapat bershalawat dan memperbanyak shalawat kepada nabi semenjak masuk Kamis malam atau malam Jum’at hingga besok di sore harinya.

Mengingat banyaknya macam/jenis shalawat dengan beragam lantunan dan sejarah lahirnya, seperti shalawat badar oleh beberapa Ummahat di zaman nabi, atau Shalawat populer yang mengisahkan keutamaan suku ‘Adnan atas tumbuh kembang sosok pilihan yaitu nabi berperangai baik, penulis pribadi seringkali melantunkan versi ibrahimi yang diajarkan langsung oleh nabi sebagaimana tercantum pada bagian “dubur ash-shalat” (“Tahiyyat” Akhir), “Allahu a’lam!”

Pos terkait