Mushola Lapas Parepare Tak Pernah Sepi, Marten Ingatkan Tantangan di Luar Tembok

Kepala Lapas Kelas IIA Parepare, Marten, Bc.IP., S.H., M.H.

PAREPARE– Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Parepare terus berinovasi dalam membina warga binaan. Salah satu pendekatan yang kini menuai hasil nyata adalah pembinaan berbasis keagamaan.

Hasilnya mencengangkan, mushola di dalam Lapas tak pernah kosong, selalu dipenuhi warga binaan yang memilih mendekatkan diri kepada Tuhan.

Bacaan Lainnya

Kepala Lapas Parepare, Marten yang sebelumnya menjabat Kalapas Nusa Kambangan menegaskan bahwa pembinaan keagamaan tidak pernah dilakukan dengan paksaan.

“Kami tidak mengatur atau memaksakan kehendak. Semua kembali ke warga binaan. Dan hasilnya luar biasa, musholah selalu penuh,” ujarnya, Jumat, 26 Desember 2025.

Namun, di balik keberhasilan itu, Marten mengaku masih menyimpan kegelisahan. Putra asal Padang ini menyoroti minimnya kepedulian terhadap warga binaan setelah mereka bebas.

“Banyak dari mereka kembali lagi. Ini yang menjadi perhatian. Kondisi itu terjadi karena kurangnya kepercayaan masyarakat. Padahal selama menjalani pembinaan, mereka sudah dibekali berbagai keahlian,” jelasnya.

Marten menekankan, bukan hanya masyarakat yang perlu membuka diri, tetapi juga pemerintah daerah melalui instansi terkait.

P“Seharusnya ada peran nyata agar mereka yang sudah bebas bisa kembali hidup normal. Tanpa itu, pembinaan di dalam Lapas hanya jadi rutinitas tanpa hasil,” tegasnya.

Sebelumnya, usai menghadiri Evaluasi Capaian Kinerja dan Refleksi Akhir Tahun 2025 di Kanwil Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Sulawesi Selatan. Pertemuan strategis ini dihadiri seluruh Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) se-Sulawesi Selatan, dengan fokus pada efektivitas program pembinaan, penguatan keamanan, hingga implementasi 13 Program Akselerasi Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan.

Marten menilai forum evaluasi ini penting sebagai instrumen untuk memetakan keberhasilan sekaligus hambatan di lapangan. “Melalui evaluasi ini, kami dapat melihat sejauh mana capaian kinerja yang telah dilaksanakan serta menjadikannya dasar untuk meningkatkan kualitas layanan dan pembinaan ke depan,” ungkapnya.

Refleksi akhir tahun ini diharapkan mampu merumuskan strategi baru menghadapi tantangan 2026, sehingga jajaran pemasyarakatan di Sulawesi Selatan dapat bekerja lebih solid, adaptif, dan benar-benar hadir melayani masyarakat.(*)

Pos terkait