MAJENE- Setelah melakukan upacara penghormatan dan peringatan bersejarah peristiwa berdarah Galung Lombok atau lebih dikenal dengan sebutan peristiwa korban 40 ribu jiwa yang terjadi 1 Februari 1947 silam, di Desa Galung Lombok, Kabupaten Polewali Mandar, Pemkab Majene kini kembali menggelar kegiatan diskusi publik sejarah dan nilai perjuangan Galung Lombok yang berlangsung di ruang pola kantor Bupati Majene.
Sebagaimana diketahui peristiwa pembantaian secara massal itu merupakan salah satu tragedi kemanusiaan terbesar dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia, khususnya di wilayah Sulawesi Barat.
Peristiwa Galung Lombok dikenal sebagai pembantaian massal yang dilakukan pasukan kolonial Belanda di bawah pimpinan Raymond Pierre Paul Westerling, dengan jumlah korban yang diperkirakan mencapai sekitar 40.000 jiwa.
Karenanya, tragedi ini menjadi luka mendalam bagi masyarakat Mandar dan bangsa Indonesia secara umum, karena melibatkan pelanggaran berat terhadap hak asasi manusia pada masa awal mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia.
Namun, kini peristiwa kelam itu tidak berlalu begitu saja. Pada setiap tahunnya masyarakat, keluarga korban, veteran maupun pemerintah tetap melakukan upacara penghormatan serta ziarah langsung ke makam korban tersebut.
Selain sejumlah kegiatan itu, juga dilakukan diskusi publik sejarah dan nilai perjuangan Galung Lombok melalui leading sector, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Majene.
Wakil Bupati Majene, Dr. Hj. Andi Rita Mariani, yang turut membuka kegiatan diskusi publik itu mengatakan bahwa kegiatan seperti ini memang penting untuk dilakukan baik pihak pemerintah maupun pihak lainnya. Sebab, ini merupakan sejarah bagi masyarakat mandar dan sejarah bagi bangsa Indonesia.
Sehingga peringatan peristiwa Galung Lombok tidak boleh dimaknai sekadar sebagai kegiatan seremonial tahunan saja. Akan tetapi, sebaiknya diisi dengan berbagai kegiatan lainnya termasuk dengan kegiatan diskusi publik sejarah dan nilai perjuangan Galung Lombok yang dialaksanakan saat ini.
” Jadi kepada leading sektor kiranya bisa lebih aktif melakukan berbagai kegiatan seperti ini agar generasi kita bisa lebih paham akan sejarah Galung Lombok. Sama kegiatan ini juga merupakan momentum refleksi sejarah yang penting agar tragedi kemanusiaan serupa tidak pernah terulang di masa depan,” kata Wabup itu.
Wabup Andi Rita menambahkan peristiwa Galung Lombok adalah luka sejarah yang harus terus dingat bersama dan meneguhkan komitmen untuk menjaga nilai-nilai kemanusiaan, persatuan serta menanamkan semangat nasionalisme kepada generasi penerus bangsa. Terlebih lagi bahwa peringatan yang digelar setiap tahun itu menjadi bagian penting dari upaya pelestarian sejarah dan edukasi publik, khususnya bagi generasi muda. Begitu juga pada kegiatan diskusi publik ini bisa mengenalkan sejarah lokal sebagai bagian tak terpisahkan dari sejarah nasional bangsa Indonesia. (Ahp)






