PAREPARE– Parepare kembali mencatat prestasi akademik membanggakan. Tim Debat Institut Ilmu Sosial dan Bisnis Andi Sapada (IDeAS) sukses meraih Juara 1 dalam ajang bergengsi Accounting Smart Challenge (ASC) 2026 yang digelar Institut Teknologi dan Bisnis Nobel Indonesia.
Dengan argumentasi tajam dan kerja sama solid, tim ini berhasil menundukkan lawan-lawannya dalam kompetisi yang menguji integritas dan kecakapan analitis mahasiswa di era transformasi digital.
Kompetisi bertema “Mengembangkan Jiwa Akuntansi Muda yang Berintegritas di Era Transformasi Digital” ini mengombinasikan penulisan esai dan debat ilmiah. Tim Andi Sapada yang terdiri dari Julianti Kai (Akuntansi), Kezia Carolina Setiawan (Manajemen), dan Karina Diva Maharani (Ilmu Hukum) tampil konsisten sejak awal hingga babak final.
Didampingi dosen pembimbing Wiwin, Muh. Akbar Fhad Syahril, dan Hamida Hasan, serta dukungan tim esai Mulyana Machmud dan Riza Amalia Rifani, mereka melangkah ke final menghadapi UIN Alauddin Makassar. Mosi panas yang diperdebatkan “Penggunaan AI dalam Profesi Akuntansi Lebih Banyak Mengancam Integritas Dibandingkan Meningkatkan Efisiensi.”
Dengan retorika tajam dan analisis kritis, tim Andi Sapada berhasil meyakinkan dewan juri dan keluar sebagai juara pertama. Posisi berikutnya ditempati UIN Alauddin Makassar (Juara 2), IAIN Parepare (Juara 3), dan Universitas Kristen Indonesia Paulus (Juara Harapan 1).
Julianti Kai, salah satu anggota tim, menegaskan rasa syukur atas pencapaian ini. “Prosesnya tidak mudah, mulai dari penyusunan esai hingga persiapan debat yang intens. Tapi berkat kerja sama tim, dukungan dosen, dan semangat belajar, kami bisa memberikan yang terbaik,” ujarnya.
Keberhasilan ini bukan sekadar kemenangan simbolis, tetapi juga penegasan kapasitas mahasiswa daerah untuk bersaing di panggung nasional. Di tengah dominasi kampus besar di kota metropolitan, capaian Andi Sapada menjadi bukti bahwa kualitas intelektual tidak ditentukan oleh lokasi, melainkan oleh semangat, integritas, dan keberanian berkompetisi.
Selain itu, kemenangan ini memperlihatkan relevansi isu akuntansi dengan perkembangan teknologi mutakhir. Debat tentang peran AI dalam profesi akuntansi membuka ruang refleksi, apakah teknologi menjadi sekutu atau justru ancaman bagi integritas profesi.
Dengan mengangkat isu ini, mahasiswa Andi Sapada tidak hanya berkompetisi, tetapi juga ikut menyuarakan kegelisahan akademik yang sedang hangat di dunia profesional.
Prestasi ini diharapkan menjadi pemantik semangat bagi mahasiswa lain untuk aktif dalam kompetisi akademik, sekaligus menegaskan peran kampus sebagai pusat lahirnya gagasan kritis yang mampu menjawab tantangan era digital.
Kemenangan ini menjadi simbol harga diri akademik Parepare yang tidak bisa diremehkan. Di tengah sorotan publik terhadap kualitas pendidikan daerah, capaian mahasiswa Andi Sapada menunjukkan bahwa lsemangat pantang mundur masih hidup dan relevan di arena intelektual.
Lebih dari sekadar trofi, prestasi ini menegaskan bahwa mahasiswa daerah mampu mengangkat isu global seperti integritas profesi akuntansi di era AI. Debat yang mereka menangkan bukan hanya soal teori, tetapi juga refleksi atas realitas dunia kerja yang sedang diguncang oleh teknologi.
Momentum ini sekaligus menjadi tamparan halus bagi kampus-kampus besar yang kerap mendominasi kompetisi nasional. Andi Sapada membuktikan bahwa kualitas argumentasi dan keberanian intelektual bisa lahir dari kampus yang berakar kuat di daerah.(*)






