PAREPARE – Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Parepare mencatat lonjakan signifikan jumlah penumpang kapal laut menjelang libur panjang dan perayaan lebaran haji.
Kepala KSOP Kelas III Parepare, Shaiful Horry melalui Humas KSOP Parepare, Eko Prayetno, menyebut moda transportasi laut kini semakin diminati masyarakat sebagai pilihan utama perjalanan antarpulau.
Dalam periode 5–18 Mei 2026, tercatat 11.435 penumpang turun di Pelabuhan Nusantara, sementara 4.505 penumpang naik. Puncak peningkatan terjadi pada Senin, 18 Mei 2026, dengan kedatangan tiga kapal dari Kalimantan, KM Prince Soya membawa 1.551 penumpang turun, KM Pantokrator 1.702 penumpang, dan KM Swarna Bahtera 318 penumpang.
Rangkaian perjalanan sebelumnya juga menunjukkan tren peningkatan. Pada 11 Mei, KM Swarna Bahtera menurunkan 166 penumpang dan menaikkan 128, disusul KM Dharma Rucitra VII dengan 465 penumpang turun. Sehari kemudian, KM Egon mencatat 390 penumpang turun dan 93 naik, sementara Catteya Express hanya melayani 261 penumpang naik.
KM Prince Soya pada tanggal yang sama mencatat 1.009 penumpang turun dan 782 naik. Tanggal 13 Mei, KM Pantokrator menurunkan 774 penumpang dan menaikkan 669, sedangkan KM Swarna Bahtera mencatat 223 penumpang turun dan 337 naik.
Pada 15 Mei, KM Dharma Ferry 3 menurunkan 319 penumpang, KM Bukit Siguntang 963 penumpang turun dan 182 naik, serta KM Swarna Bahtera 305 penumpang turun dan 337 naik.
Tanggal 16 Mei, KM Queen Soya menurunkan 803 penumpang dan menaikkan 577, sementara KM Thalia mencatat lonjakan 1.455 penumpang turun dan 475 naik. Sehari kemudian, KM Adithya menurunkan 992 penumpang dan menaikkan 569.
Hari ini, KM Prince Soya kembali mencatat 1.551 penumpang turun, KM Pantokrator 1.702 penumpang turun, dan KM Swarna Bahtera 318 penumpang turun tanpa ada penumpang naik.
Total keseluruhan selama periode tersebut mencapai 11.435 penumpang turun dan 4.505 penumpang naik.
Eko menegaskan, seluruh perusahaan pelayaran telah diminta memperkuat layanan untuk menghadapi lonjakan penumpang. Fokus utama diarahkan pada aspek keselamatan, keamanan, dan kenyamanan.
Penguatan operasional dilakukan melalui koordinasi intensif dengan regulator, operator kapal, aparat keamanan, serta pemangku kepentingan lainnya.






