SIDRAP– Musim kemarau panjang yang melanda Sulawesi Selatan seolah tak berdaya menghadang semangat petani Sidrap. Di saat banyak daerah lain menjerit karena kekeringan, Kabupaten Sidenreng Rappang justru tampil sebagai panggung inovasi. Program listrik masuk sawah dan optimalisasi lahan (oplah) menjelma menjadi senjata baru yang membuat petani tetap bisa panen di tengah keterbatasan air.
Wakil Gubernur Sulsel Hj. Fatmawati Rusdi hadir langsung di Panen Raya Oplah Non Rawa Program Listrik Masuk Sawah di Desa Takkalasi, Selasa, 18 Agustus 2026. Ia menyebut capaian Sidrap sebagai bukti nyata kolaborasi pemerintah, petani, PLN, dan stakeholder lain. “Sidrap luar biasa. Di tengah musim kemarau masih bisa panen. Ini bukti nyata seluruh pihak bekerja bersama sehingga persoalan kekeringan bisa diatasi,” ujar Fatmawati.
Fatmawati menegaskan penerapan Pertanian Modern Advanced Agricultural System (PM-AAS) di Sulsel sudah menunjukkan hasil menggembirakan. Di Majjelling, hasil panen bahkan tembus 11 ton per hektare. Ia juga memuji kelincahan Bupati Sidrap Syaharuddin Alrif yang aktif memperjuangkan sektor pertanian hingga ke kementerian.
Fatmawati memastikan Sidrap akan kembali diprioritaskan pada 2027. Pemerintah provinsi membuka peluang usulan program mulai dari cetak sawah, oplah, hingga pembangunan jaringan irigasi. “Mumpung ada anggarannya, silakan tambahkan usulan untuk Sidrap. Kami siap bantu,” tegasnya.
Anggaran Rp65 Miliar untuk Pertanian Sulsel
Kepala Dinas Tanaman Pangan Sulsel Bustanul Arifin merinci alokasi anggaran 2026 sebesar Rp65 miliar. Sidrap mendapat jatah 3.200 hektare oplah dengan dana Rp14 miliar, ditambah dukungan irigasi pompa, irigasi tersier, dan irigasi pipa. Semua diarahkan untuk memperkuat target swasembada pangan nasional.
Bupati Syaharuddin menggambarkan manfaat program listrik masuk sawah sebagai terobosan besar. “Serasa di luar negeri. Listrik ada di mana-mana di sawah. Dengan voucher Rp100 ribu bisa digunakan tiga hari untuk pompanisasi. Listrik mengalir, air mengalir,” ungkapnya.
Di Desa Takkalasi, 395 hektare lahan kini dikelola 13 kelompok tani dengan dukungan 39 titik sumur bor. Rencananya jumlah titik bor akan ditambah agar satu titik bisa melayani lebih sedikit lahan sehingga pengairan lebih optimal.
Hasil ubinan panen kali ini menunjukkan produktivitas 10,4 ton per hektare, naik dari sebelumnya sekitar 7 ton. Dengan harga gabah Rp7.500/kg, nilai produksi per hektare melonjak dari Rp50,4 juta menjadi Rp78 juta.
PLN melalui UP3 Parepare-Sidrap mencatat ada 1.471 titik listrik irigasi, dengan 1.073 titik di Sidrap. Investasi PLN di daerah ini sudah menembus Rp100 miliar, termasuk 120 titik baru di Desa Takkalasi, Tenete, dan Allakuang.
Manager PLN Sulawesi, Albert, menegaskan listrik kini bukan hanya untuk rumah tangga dan industri, tetapi juga untuk pertanian agar lebih tahan terhadap perubahan musim.
Panen raya di tengah kemarau ini meneguhkan Sidrap sebagai sentral produksi pangan Sulsel. Inovasi listrik masuk sawah, oplah, dan dukungan pemerintah membuktikan bahwa modernisasi pertanian bukan sekadar teknologi, melainkan akses nyata terhadap air dan energi.
Sidrap kembali menunjukkan bahwa di Bumi Nene Mallomo, kemarau bukan alasan untuk berhenti panen. Justru dengan inovasi dan kerja keras, panen di tengah kekeringan kini menjadi kenyataan.






