Dalam kehidupan yang dipenuhi dengan kode dan logika, saya Rustam, seorang programmer dengan hobi fotografi dan memancing, berasal dari Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan Sulawesi Selatan. Memancing bagi saya adalah kegiatan yang unik, memberikan keseimbangan fisik dari pekerjaan sehari-hari yang banyak dihabiskan di depan komputer. Saya menjelajahi berbagai wilayah pesisir, mengejar berbagai jenis ikan. Kegiatan ini tidak hanya menghubungkan saya dengan para nelayan lokal dan komunitas pesisir, tetapi juga memperkenalkan saya pada keindahan alam liar. Sementara itu, fotografi memungkinkan saya untuk menangkap momen-momen kedamaian dan keindahan alam.
Selama bertahun-tahun, saya telah menjelajahi hampir 80% wilayah pesisir Pangkep, dimana sebagian besar penduduknya adalah petani ikan, petani rumput laut, dan nelayan tradisional. Namun, selama petualangan saya di pantai, kekhawatiran mulai muncul. Spot-spot memancing favorit yang dulu penuh dengan Kerapu, Kakap Putih, dan Kakap Merah, kini terasa berbeda. Apa yang terjadi? Penelusuran saya mengungkapkan perubahan drastis pada lahan, air, dan terutama hutan mangrove. Ekspansi tambak budidaya, intensifikasi aktivitas pelabuhan, dan masalah sampah telah menyebabkan penipisan hutan mangrove.

Dari pengamatan tersebut, saya menyimpulkan bahwa apa yang saya rasakan selama petualangan hobi saya kemungkinan juga dirasakan oleh para nelayan pesisir yang menggantungkan hidupnya pada laut. Mangrove bukan hanya tempat perlindungan dan berkembang biak bagi berbagai spesies ikan dan kepiting, tetapi juga memainkan peran penting dalam menjaga stabilitas ekosistem pesisir. Penurunan populasi mangrove telah mengakibatkan penurunan hasil tangkapan ikan dan kepiting, yang berdampak langsung pada pendapatan nelayan.
Kurangnya hutan bakau berdampak besar bagi para nelayan tangkap di pesisir Pangkep. Mangrove berperan penting sebagai lindung alami, yang berfungsi menyediakan habitat bagi berbagai spesies ikan dan organisme laut lainnya. Tanpa mangrove yang memadai, ekosistem laut dapat terganggu, mengurangi populasi ikan dan mengubah dinamika ekosistem pesisir.
Para nelayan seringkali mengandalkan keberadaan mangrove untuk menangkap ikan karena mangrove menyediakan tempat berlindung bagi ikan muda, tempat makanan, dan struktur kompleks yang mendukung keberagaman biologi laut. Ketika hutan bakau berkurang akibat deforestasi, pembangunan pantai, atau aktivitas manusia lainnya, populasi ikan dapat menurun secara signifikan. Hal ini berdampak langsung pada penangkapan ikan para nelayan, mengurangi hasil tangkapan mereka dan mengancam mata pencahariannya.
Oleh karena itu, pelestarian hutan bakau sangat penting tidak hanya untuk keberlanjutan lingkungan, tetapi juga untuk mempertahankan mata pencaharian para nelayan yang bergantung pada sumber daya laut di pesisir. Langkah-langkah konservasi, seperti penanaman kembali mangrove dan perlindungan habitat alami mereka, perlu didukung untuk menjaga ekosistem pesisir yang sehat dan produktif bagi masa depan.
Pada tahun 2016, melalui media sosial, saya pertama kali mengenal Blue Forest, sebuah organisasi yang berdedikasi untuk rehabilitasi mangrove. Lomba menulis dan fotografi mereka di Pulau Panikiang, Kabupaten Barru, menjadi titik balik dalam pemahaman saya tentang pentingnya mangrove. Lomba ini tidak hanya sekadar kompetisi, tetapi juga kesempatan untuk belajar langsung di lapangan di bawah bimbingan aktivis BlueForest.
Selama kegiatan ini, saya belajar banyak hal baru tentang mangrove yang tidak pernah saya temukan di internet. Pentingnya mangrove tidak hanya dalam menjaga kelestarian lingkungan, tetapi juga sebagai habitat vital bagi berbagai spesies, serta perlindungan alami terhadap abrasi pantai akibat gelombang, yang sangat penting untuk menjaga keseimbangan ekosistem pesisir yang rapuh.
Saya sedikit terkejut, selama ini banyak penggiat atau aktifis baik skala lokal, nasional dan internasional yang selama ini saya kenal, namun BlueForest ini sangat berbeda. Program kerja yang konsisten, tim kerja yang powerfull disetiap wilayah binaannya menunjukkan perubahan yang signifikan. Hal ini saya buktikan dengan melihat langsung, update kegiatan, informasi baik melalui channel media sosial, YouTube, dan lainnya. Ya, BlueForest menurut saya adalah yayasan yang selayaknya memperoleh tempat dan perhatian lebih dari pemerintah. Karena menjalankan tugas, pokok dan fungsi pemerintah lebih spesifik, terjun kelapangan, dan mengimplementasikan keilmuan mereka, yang menurut saya agak minim dilakukan oleh pihak pemerintah daerah. Kurri Caddi Maros, pulau Panikiang Barru, Papua, dan yang saat ini berlangsung di Muna dan Muna Barat adalah bukti konsistensi Blue Forest sejak saya mengenal di tahun 2016 silam.
Masyarakat seharusnya menyambut baik hal ini karena apa yang dilakukan Blue Forest adalah upaya jangka panjang untuk mewariskan lingkungan yang berkelanjutan bagi generasi mendatang. Sebagai negara kepulauan, kita semua memiliki tanggung jawab untuk menjaga habitat pesisir. Keberlanjutan hidup kita sebagai penduduk kepulauan sangat bergantung pada kesehatan lingkungan yang kita rawat. Blue Forest adalah contoh perjuangan panjang untuk memastikan lingkungan yang sesuai bagi generasi mendatang.

Dalam perjalanan hidup saya, saya belajar bahwa kebahagiaan sesungguhnya tidak hanya ditemukan pada ujung joran atau melalui lensa kamera. Kebahagiaan itu hadir di dalam akar-akar mangrove yang kita rawat, dalam setiap koneksi kita dengan alam, dan dalam upaya kita untuk menjaga integritasnya bagi semua makhluk yang hidup di dalamnya.
Hari ini, apa yang bisa saya lakukan hanyalah mengabadikan keindahan mangrove dan ekosistemnya melalui foto dan video, mempublikasikannya melalui situs web, portal berita, dan media sosial, serta ikut serta dalam kegiatan membersihkan sampah di sekitar spot-spot mangrove tempat saya memancing, sangat berbanding jauh dengan apa yang telah dilakukan Blue Forest. Mereka adalah pahlawan sejati yang menjaga benteng-benteng pesisir kita dan memelihara hubungan hidup manusia dengan alam melalui program-program tepat sasaran mereka.
Perjuangan untuk mencari kebahagiaan bersimpul erat dengan tanggung jawab kita untuk menjaga habitat pesisir. Blue Forest muncul sebagai pilar harapan, menunjukkan bagaimana upaya bersama dapat melestarikan warisan alam kita untuk generasi mendatang. Saat saya melanjutkan perjalanan hidup ini, saya tetap berkomitmen untuk menangkap essensi mangrove dan mendukung pelestariannya, terinspirasi oleh karya-karya berdampak dari organisasi seperti Blue Forest.









