PSI Rayakan Satu Dekade Perjuangan dengan Kongres Megah dan Semangat Pembaruan

Jeffrie Geovanie, Ketua Dewan Pendiri PSI, membuka kongres dengan pidato penuh makna

SURAKARTA — Di tengah sorak-sorai kader berbaju putih dan gemuruh suara gajah yang menggema dari layar raksasa, Partai Solidaritas Indonesia (PSI) memulai Kongres pertamanya dengan semangat reflektif dan harapan baru.Bertempat di Graha Saba Buana, Solo, ribuan kader dari penjuru Nusantara hadir menandai satu dekade perjuangan partai yang lahir dari mimpi, bukan dari patron elite.

Jeffrie Geovanie, Ketua Dewan Pendiri PSI, membuka kongres dengan pidato penuh makna. Ia menegaskan bahwa PSI tidak lahir dari tokoh-tokoh besar atau modal raksasa, melainkan dari kegelisahan kolektif dan diskusi panjang tentang nasib bangsa. Ia menyebut nama-nama seperti Raja Juli Antoni dan Isyana Bagoes Oka sebagai para pendiri yang awalnya bahkan “alergi” terhadap politik.

Bacaan Lainnya

“Dulu kami ingin minta Presiden Jokowi yang pilih nama dan logo partai. Tapi saya tolak. PSI harus independen sejak awal,” ujar Jeffrie sambil mengundang tawa hangat para kader.

Dalam pembukaan yang dramatis, suara gajah terdengar seiring tayangan visual seekor gajah bergading panjang melangkah di layar. Logo PSI pun resmi berganti, dari tangan bermawar menjadi siluet gajah yang anggun simbol keteguhan, kesetiaan, dan kebijaksanaan. Ini menandai langkah rebranding partai menuju identitas yang lebih inklusif dan berkarakter.

Demokrasi Internal: Pemilu Raya dan Checks & Balances

Kongres ini menjadi panggung Pemilu Raya untuk menetapkan Ketua Umum PSI secara demokratis. Struktur Dewan Pembina pun diperkuat, menegaskan bahwa kekuasaan dalam partai tidak bersifat tunggal. “Yang menang bukan pemilik partai. Dewan Pembina adalah penyeimbang utama,” tegas Jeffrie.

Ia juga mengingatkan tiga kandidat ketua umum Kaesang Pangarep, Ronald A Sinaga, dan Agus Mulyono Herlambang untuk menjaga semangat kolaborasi, bukan kompetisi destruktif.

Kaesang Pangarep, putra Presiden ke-7 RI, berjalan kaki menuju Kongres dari rumah orang tuanya. Disambut yel-yel pendukung, langkah sederhana ini menjadi metafora kedekatan PSI dengan rakyat. Ia mengaku telah mendapat restu dari Jokowi dan Iriana, sembari membawa pesan ayahnya yang menohok namun bijak: “Siap menang, siap kalah.”

Rekonsiliasi dan Kedewasaan Politik

Dalam pidatonya, Jeffrie mengajak PSI meneladani kedewasaan politik Jokowi dan Prabowo. Dua tokoh yang saling bersaing namun akhirnya bekerja sama dalam kabinet, menjadi simbol kematangan demokrasi yang perlu dirawat.

Jeffrie tak menampik masa sulit PSI, ketika elektabilitas sempat berada di titik rendah. Tapi Kongres ini adalah titik balik. “Kita pernah di nol koma. Hari ini kita bangkit,” serunya.

Kongres PSI tidak hanya menentukan nahkoda baru. Ia menjadi momen rekonstruksi semangat awal bahwa politik adalah ruang gagasan, bukan dominasi. Seperti gajah yang berjalan mantap, PSI tampaknya siap menapaki dekade berikutnya dengan kekuatan yang tenang namun transformatif.(*)

Pos terkait