MAKASSAR— Universitas Hasanuddin (Unhas) kembali menambah jajaran akademisi bergelar Guru Besar. Kali ini, Prof. Dr. Anas Iswanto Anwar, SE, MA, CWM, CRBC resmi dikukuhkan sebagai Guru Besar dalam bidang Ekonomi Moneter Internasional pada Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Unhas.
Pengukuhan berlangsung khidmat dalam Sidang Senat Akademik yang dipimpin langsung oleh Ketua Senat Akademik Unhas, Prof. Dr. drg. Bahruddin Thalib, M.Kes, Sp.Pros(K), bertempat di Ruang Senat Lantai 2 Gedung Rektorat, Kampus Unhas Tamalanrea, Makassar.
Turut hadir dalam sidang tersebut sejumlah tokoh penting Unhas, antara lain Ketua Majelis Wali Amanat (MWA) Unhas Prof. Dr. Andi Alimuddin Unde, M.Si, Ketua Dewan Profesor Unhas Prof. Dr. Andi Pangeran Moenta, SH, MH, Rektor Unhas Prof. Dr. Ir. Jamaluddin Jompa, dan Dekan FEB Unhas Prof. Dr. Abdul Rahman Kadir, M.Si, CIPM, CWM, CRA, CRP.
Momentum akademik ini juga menjadi ajang silaturahmi para sahabat dan kerabat Prof. Anas, terutama sesama alumni SMA Negeri 1 Makassar (SMANSA). Di antaranya tampak hadir Gubernur Kalimantan Utara Dr. H. Zainal Arifin Paliwang, SH, MH, mantan Wakil Gubernur Sulsel Ir. Agus Arifin Nu’mang, mantan Wali Kota Makassar Mohammad Ramdhan Pomanto, Bupati Barru Andi Ina Kartika Sari, SH, serta sejumlah tokoh nasional dan pengusaha yang tergabung dalam IKA SMANSA.
Paradigma Baru: Dari Trilema Mundell ke Kuadrilema Digital
Dalam pidato ilmiahnya, Prof. Anas memaparkan gagasan revolusioner bertajuk “Transformasi Paradigma Ekonomi Moneter Internasional: Trilemma Mundell ke Quadrilemma Digital”. Ia mengurai bagaimana sistem moneter internasional yang selama ini bertumpu pada Trilema Mundell stabilitas nilai tukar, kebebasan mobilitas modal, dan independensi kebijakan moneter kini menghadapi tantangan baru akibat disrupsi digital.
“Revolusi teknologi telah melahirkan dimensi keempat yang tak bisa diabaikan integrasi digital dan keamanan siber,” tegas Prof. Anas, yang juga menjabat sebagai Komisaris Bank Unhas.
Konsep Kuadrilema Digital yang ia tawarkan menambahkan variabel baru dalam analisis kebijakan moneter global, mencakup volatilitas aset kripto, risiko siber, dan fragmentasi digital antarnegara. Menurutnya, bank sentral dan otoritas moneter dunia harus segera mengadaptasi kerangka kerja baru yang lebih responsif terhadap realitas digital.
“Inovasi seperti stablecoin dan blockchain telah mendisrupsi model lama. Kita butuh pendekatan baru yang mampu menjaga kedaulatan moneter sekaligus menjamin stabilitas finansial di era digital,” ujarnya.
Prof. Anas menekankan bahwa Kuadrilema Digital bukan sekadar teori tambahan, melainkan refleksi dari tantangan nyata yang dihadapi negara-negara dalam menjaga kepercayaan publik terhadap sistem moneter modern.
Syukuran Meriah di Four Points Makassar
Usai pengukuhan, Prof. Anas menandatangani naskah resmi sebagai Guru Besar dan anggota Dewan Profesor Unhas dengan nomor keanggotaan 602. Acara dilanjutkan dengan sesi foto bersama dan ucapan selamat dari para hadirin.
Sebagai ungkapan rasa syukur, Wakil Dekan Bidang Kemitraan, Riset, Inovasi, dan Kemahasiswaan FEB Unhas ini menggelar syukuran di Lily Hall C, Four Points by Sheraton Hotel Makassar. Acara berlangsung hangat dan meriah, diiringi penampilan artis ibukota Dedy Dukun yang membawakan lagu-lagu nostalgia, mengajak tamu undangan bernyanyi dan bergoyang bersama.
Pengukuhan ini menandai tonggak penting dalam perjalanan akademik Prof. Anas Iswanto Anwar, sekaligus memperkaya khazanah pemikiran ekonomi moneter internasional yang kini memasuki babak baru di era digital. (*)






