PAREPARE– Dokter psikiater RSUD Andi Makkasau, dr. Arman Sp.Kj, menegaskan bahwa kasus bunuh diri merupakan kegawatdaruratan dalam kedokteran jiwa. Ia mengungkapkan sejumlah tanda klinis yang kerap muncul sebelum seseorang melakukan percobaan bunuh diri, mulai dari perubahan perilaku hingga gejala depresi berat.Menurut dr. Arman, pasien berisiko biasanya menunjukkan sikap menarik diri dari lingkungan, menjadi pendiam, atau justru tampak selalu tertawa untuk menutupi beban batin. “Kadang mereka pernah melakukan percobaan sebelumnya, atau mulai membicarakan ide bunuh diri. Itu harus diwaspadai,” jelasnya.
Ia menegaskan bahwa RSUD Parepare memiliki protokol penanganan darurat bagi pasien dengan ide bunuh diri. “Kami langsung merawat, bahkan pernah beberapa pasien ditangani bersamaan. Jika ada riwayat depresi, BPJS menanggung biaya perawatan,” ujarnya.
Meski begitu, dr. Arman mengakui fasilitas perawatan jiwa di Parepare masih terbatas. “Standar ruangan khusus memang ada, tapi kualitasnya belum maksimal. Kami masih advokasi agar pemerintah dan DPR memberi perhatian lebih, termasuk pelatihan tenaga medis,” tambahnya.
Faktor Pemicu: Asmara, Ekonomi, dan Pinjaman Online
Ia menyebut faktor risiko terbesar di Parepare adalah depresi akibat masalah asmara, kehilangan orang terdekat, hingga tekanan ekonomi seperti pinjaman online. “Remaja rentan, tapi kasus terbanyak justru pada usia dewasa. Rasio laki-laki dua kali lebih tinggi dibanding perempuan, karena faktor hormonal,” ungkapnya.
dr. Arman menekankan pentingnya peran keluarga dan lingkungan. “Kalau ada anggota keluarga yang sering mengurung diri, gelisah, atau menunjukkan tanda depresi, jangan dibiarkan. Dampingi, ajak bicara, berikan kata-kata yang menenangkan. Itu manusiawi, dan setiap orang pantas untuk bangkit lagi,” pesannya.
Meski RSUD Andi Makkasau sudah memiliki protokol darurat, fasilitas perawatan jiwa masih jauh dari kata ideal. Ruangan khusus dengan standar keamanan belum sepenuhnya tersedia, dan tenaga medis masih minim pelatihan. “Kalau pasien sudah tidak mampu ditangani, kami harus merujuk ke Makassar,” kata dr. Arman. Kondisi ini menunjukkan bahwa Parepare masih bergantung pada pusat layanan di kota besar, padahal kasus bunuh diri semakin nyata di daerah.
Catatan Redaksi
Pernyataan dr. Arman membuka fakta bahwa layanan kesehatan jiwa di Parepare masih jauh dari ideal. Meski BPJS menanggung biaya, keterbatasan fasilitas dan minimnya tenaga terlatih menjadi celah serius. Kasus bunuh diri bukan sekadar tragedi personal, melainkan alarm publik agar pemerintah segera memperkuat sistem dukungan kesehatan mental di daerah.






