Seragam Gratis dan Lima Hari Sekolah, Parepare Jadi Magnet Murid Perbatasan

Aktivitas penerimaan siswa baru di SMPN 5 Kota Parepare

PAREPARE– Program seragam gratis yang digulirkan Pemerintah Kota Parepare terbukti menjadi daya tarik besar bagi orang tua siswa di wilayah perbatasan. Dampaknya langsung terasa di sejumlah diwilayah perbatasan. Salah satunya, SMPN 4 Mallusetasi, di Kelurahan Bojo, Kabupaten Barru, yang tahun ini mengalami penurunan drastis jumlah penerimaan siswa baru.

Padahal, di sekitar sekolah tersebut terdapat tiga SD dengan rata-rata 60 murid per sekolah, namun hanya sekitar 20 murid yang akhirnya masuk ke SMPN 4. Fenomena ini terjadi karena banyak orang tua lebih memilih menyekolahkan anaknya ke SMPN 5 Parepare yang menawarkan program seragam gratis sekaligus sistem lima hari sekolah.

Bacaan Lainnya

Kondisi serupa juga terlihat di perbatasan Pinrang, di mana orang tua lebih tertarik mengirim anaknya ke sekolah di Parepare dibandingkan sekolah di daerah asal. Data menunjukkan bahwa baik Kabupaten Barru maupun Pinrang tidak mengalokasikan program seragam gratis tahun ini, sehingga Parepare menjadi pilihan utama bagi warga perbatasan.

Anggota DPRD Barru, Rusdi Cara, mengakui bahwa ada dua faktor dominan yang membuat orang tua lebih memilih sekolah di Parepare, yakni penerapan sistem lima hari sekolah dan program seragam gratis.

“Di Barru masih enam hari sekolah, sementara Parepare sudah lima hari. Termasuk seragam sekolah, dan faktor program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang tidak ada di wilayah tersebut. Agar dipertimbangkan, keduanya terkecuali MBG yang memang belum siap,” ujarnya, Senin, 6 Juli 2026.

Rusdi menambahkan bahwa fenomena ini harus segera dibahas bersama bupati dan kepala dinas pendidikan Barru, karena jika dibiarkan, sekolah-sekolah di Barru akan terus kehilangan murid akibat daya tarik kebijakan pendidikan di Parepare. “Lima hari sekolah dan seragam gratis menjadi pertimbangan utama orang tua menyekolahkan anaknya di luar Barru,” tegasnya.

Sementara itu, Kepala SMPN 5 Parepare, Rahmaniar, menuturkan bahwa sekolahnya justru menambah kuota penerimaan siswa baru tahun ini. Kuota yang disediakan mencapai 103 orang, meningkat dibandingkan tahun sebelumnya. Dari jumlah tersebut, 40 persen berasal dari dalam wilayah Parepare, sedangkan 60 persen dari luar wilayah.

Rahmaniar tidak menampik bahwa sosialisasi sekolah dilakukan hingga ke luar daerah, termasuk wilayah Barru. Ia menekankan bahwa minat orang tua di Barru cukup tinggi untuk menyekolahkan anaknya ke sekolah rakyat yang berada di wilayah Kabupaten Barru, namun tetap memilih Parepare karena fasilitas dan program yang lebih lengkap.

“Waktu kami sosialisasi di daerah Bojo, banyak orang tua siswa yang ingin mendaftarkan anaknya ke sekolah rakyat. Itukan ada di wilayah Barru, karena semua ditanggung, apalagi kalau boarding. Namun, kalau tetap memilih sekolah kami itu diluar pemahaman kami” jelasnya.

Fenomena ini memperlihatkan bagaimana kebijakan pendidikan yang pro-rakyat, seperti seragam gratis dan sistem lima hari sekolah, mampu mengubah peta penerimaan siswa di wilayah perbatasan. Parepare berhasil menjadikan program tersebut sebagai magnet utama, sementara daerah tetangga seperti Barru dan Pinrang harus menghadapi tantangan serius untuk mempertahankan murid di sekolah lokal.

Pos terkait