Nakhoda Baru Pare Pos

Harian Pare Pos, koran kebanggaan Kota Parepare dan kawasan Ajattapareng serta Sulawesi Barat kini berganti nakhoda. Pada Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS), Senin, 3 Januari 2020 para pemegang saham menunjuk Drs Mappiar HS menjadi Direktur menggantikan Harun Hamu, Direktur sebelumnya yang memilih hijrah ke Yogyakarta.

Oleh: Suwardi Thahir
Ketua PWI Ajatappareng periode 1999/2000

Bacaan Lainnya

Mappi, demikian kami menyapanya, bukan orang baru di media cetak, dunia bisnis dan organisasi kewartawanan. Pengalaman panjang dan berliku di dunia persuratkabaran dan bisnis telah dilakoninya dengan deretan prestasi dan kisah merona.

Selain loyalitas, pemegang saham memilih Mappiar karena catatan karier yang bernas, keluasan jaringan, kompetensi dan rekam jejak yang mumpuni. Modal ini diharapkan dapat memotivasi karyawan Pare Pos untuk bertransformasi dalam kinerja.

Karier kewartawanan Mappiar sbg reporter dimulai ketika Harian FAJAR msh berkantor di jl. Achmad Yani, sekira 30 tahun silam. Di sana ia diberi tugas khusus mengisi rubrik HATI YANG LUKA. Rubrik yang dicomot dari judul lagu Betharia Sonata yang saat itu sedang naik.

Rubrik ini cukup digandrungi ibu-ibu dan bapak-bapak krn liputannya mengupas kasus-kasus perceraian yg sedang disidangkan. Banyak cerita aneh dan lucu terungkap di situ. ”Ada istri menggugat cerai karena suami sudah tak kuat di atas ranjang,” kata Mappi sambil terkekeh. ”Waktu pulang selesai sidang, mereka malah berboncengan,” ungkapnya saat mengenang masa lalu saat di lapangan mengejar berita.

Selain meliput di pengadilan Agama, dia juga ngepos di kantor Kadin Sulsel yang berada di seberang jalan redaksi Harian FAJAR. Bersama wartawan seangkatannya, Amran A. Sayuti, Mufti Hendrawan dan fotogrfer Ghalib (alm), Mappiar menghasilkan berita yang banyak menginspirasi dan menjadi referensi pengusaha.

Pada era 1990-2000-an, Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Sulsel sangat diperhitungkan. Akselerasi organiaasi pengusaha ini mampu membuat anggotanya menguasai ‘perekonomian’ serta memengaruhi kebijakan pemerintah. Saat itu, Kadin Sulsel dipimpin H.M. Jusuf Kalla, Alwi Hamu, Aksa Mahmud, Razak Djalle dan lainnya dengan Sekretaris Husain Ibrahim. Boleh dibilang kegiatan ekonomi Sulsel dan Indonesia digodok di Kadin Sulsel dan Mappiar cs adalah corong yang melantangkan sehingga informasi itu cepat tersosialisasi.

Ketika FAJAR berpindah ke Jl. Racing Center 101 (sekarang Kampus Unifa), Mappi naik pangkat menjadi Redaktur Ekonomi. Jabatan redaktur melekat padanya hingga Harian FAJAR pindah ke Graha Pena.

Ketika bagian iklan membutuhkan tenaga segar, dia menjadi pilihan utama karena dianggap banyak mengenal dan berinteraksi dengan pengusaha dan penguasa. Mappiar lalu naik pangkat menjadi Manajer Pemasaran Harian FAJAR di samping menjabat sebagai Direktur Makassar Promosion (Mapro), event organizer yang bernaung di bawah bendera FAJAR Group.

Beberapa tahun kemudian, di tempat itu pula Mappi diangkat menjadi Direktur Utama Harian Ekonomi Ujungpandang Ekspres, yang sedang menurun karena kepemimpinan yang ditugaskan di tempat lain. Di koran ekonomi itu, ia mencetuskan banyak ide, event, termasuk Diskusi Ekonomi “Meja Bundar” yang ditiru media lain menjadi banyak versi.

Kariernya semakin meningkat ketika diangkat menjdi Dirut PT. FAJAR Utama Internedia, perusahaan yg memiliki lima cabang percetakan, yang bertugas mencetak semua media yang berada di bawah bendera PT Media FAJAR.

Prestasi dan dedikasinya terhadap FAJAR Group (termasuk mengurus ijin tambang dan agribisnis) beberapa tahun terakhir serta pengalaman organisasi sebagai Wakil Ketua Bidang Organisasi Persatuan Wartawan Indonesia Cabang Sulsel menyebabkan pemegang saham “jatuh cinta” dan memercayai dan menugasinya untuk “turun gunung” menangani Pare Pos.

Manajemen beruntung mendapatkan direksi baru karena butuh tenaga ekstra untuk memajukan Pare Pos setelah terjadi perubahan sistem komunikasi dan perilaku konsumsi informasi masyarakat karena disrupsi.

Pilihan informasi yg “melimpah” menyebabkan beban di pundak Mappiar semakin berat. Media mainstream harus bergerak cepat, inklusi dan memberi pemahaman bahwa mereka menyajikan berita terpilih, terbaik, dihasilkan oleh wartawan kompetenq yang patuh pada kode etik, bekerja profesional dengan pijakan UU No 40/1999.

Beberapa hari ke depan, Mappiar akan ke Parepare, bekerja, berinovasi, melayani ekosistemnya dengan menakhodai Pare Pos untuk membangun Ajattapareng. Dia telah memilih jalan berundak dengan pijakan yang ‘goyah’ karena era komunikasi yang berubah.

Dia juga harus menjadi pemimpin transformasional agar bisa mengubah sikap dan kinerja karyawan supaya adaptif terhadap perubahan. Tanpa melakukan hal ini, Mappiar hanya akan menjadi nakhoda kapal kosong yang rapuh. Selamat bertugas cappo!

Pos terkait