POLMAN, KILASSULAWESI — Sebanyak 26 Saeyyang Pattu’du atau kuda menari mewarnai perayaaan Maulid Nabi Muhammad Saw 1446 Hijriyah.
Kuda menari atau Saeyyang Pattu’du ini adalah tradisi dari masyarakat Mandar yang mengandung nilai-nilai Islami. Biasanya Saeyyang Pattu’du ini diadakan pada acara perayaan Maulid Nabi Muhammad Saw, seperti yang sedang berlangsung saat ini.
Saeyyang Pattu’du diadakan sebagai bentuk syukuran dan budaya pada acara khatam Al-Qur’an. Seorang anak yang telah khatam Al-Qur’an diupacarakan dengan menunggangi kuda sungguhan. Lalu diarak mengelilingi kampung yang disaksikan oleh masyarakat.
Kuda tersebut dihias dengan berbagai aksesoris,demikian juga dengan penunggang kuda berhias dengan menggunakan pakaian adat Mandar.
Seperti yang berlangsung di desa Napo kecamatan Limboro ribuan masyarakat antusias menyaksikan kuda menari atau Saeyyang Pattu’du yang diarak keliling kampung, masyarakat yang datang pun bukan cuma masyarakat lokal masyarakat dari luar Sulbar pun datang menyaksikan tradisi maulid ditanah Mandar ini.
“Alhamdulillah ribuan masyarakat antusias menyaksikan Maulid Nabi di desa Napo ini,selain masyarakat setempat juga ada masyarakat dari luar Sulbar”, ucap Jamaluddin Ketua panitia pelaksana maulid nabi Muhammad Saw Senin 16 September 2024.
Menurut Ketua Ikatan remaja Masjid Arrahmah ( Ikramah) Desa Napo itu bahwa tradisi maulid dengan mengikutsertakan Saeyyang Pattu’du ini sudah berlangsung lama dan itu murni swadaya masyarakat yang menjaga dan melestarikan tradisi dan budaya mandar Ini.
“,Kegiatan seperti ini sudah berjalan dari tahun ketahun dengan tujuan menjaga kelestarian budaya mandar.selain itu, juga untuk mempererat silaturahmi masyarakat yang ada didesa Napo ini.”ungkap Jamaluddin.
Salah satu pengunjung dari Luwu Timur Darti mengaku jauh jauh datang dari Sulsel hanya untuk melihat dan menyaksikan maulidan Nabi ditanah Mandar itu yang identik dengan atraksi kuda menari.
“Saya sih, penasaran seperti apa penampakan kuda menari itu dan ternyata sangat luar biasa.saya sangat kagum dan terpukau melihat budaya dan tradisi dimandar ini,selain ramai masyarakat yang menyaksikan.kuda yang ditunggangi dua wanita cantik itu terlihat menari nari mengikuti dentuman rebana yang dimainkan oleh sekolompok pengiringnya.ini sangat menarik bagi saya.”Tutur Mba Darti sambil tersenyum (*)





