Peran Media dalam Menghapus Stigma: Sensitivitas dalam Peliputan HIV/AIDS

Ketua Yayasan Pendampingan Kesehatan Terpadu Kota Parepare, Abdul Risal

PAREPARE—Peliputan HIV/AIDS membutuhkan pendekatan yang sangat hati-hati dan sensitif. Hal ini dikarenakan masalah tersebut sering kali dikaitkan dengan stigma sosial, diskriminasi, dan kesalahpahaman. Workshop Jurnalistik Peduli HIV/AIDS yang diadakan oleh Yayasan Pendampingan Kesehatan Terpadu dengan dukungan AIDS Healthcare Foundation (AHF), memberikan panduan penting bagi para jurnalis agar dapat menghasilkan berita yang mendidik dan menghormati martabat orang dengan HIV/AIDS (ODHA).

Shanti Syafaat, salah satu pemateri dalam workshop tersebut, membagikan pengalamannya sebagai pengurus Komisi Penanggulangan AIDS Daerah (KPAD) Kabupaten Sidrap sekaligus mantan jurnalis Harian Parepos (1998-2005). Ia menyoroti insiden yang pernah terjadi di masa lalu, ketika seorang rekan seprofesi menulis berita HIV/AIDS dengan mencantumkan identitas ODHA. “Dampaknya sangat fatal, termasuk pada kehidupan sosial mereka,” ungkap Shanti. Kejadian tersebut menjadi pengingat pentingnya penyajian berita yang tidak hanya akurat, tetapi juga penuh empati dan tidak sensasional.

Bacaan Lainnya

Dalam pemaparan workshop, Shanti menekankan bahwa pemberitaan tentang HIV/AIDS dapat menjadi alat untuk mengurangi stigma dan mendukung upaya pengobatan jika dilakukan dengan tepat. Berikut adalah teknik utama yang dibahas:

1. Bahasa yang Sensitif dan Inklusif

Pemilihan kata dalam peliputan sangat krusial untuk menghindari diskriminasi. Bahasa yang lebih inklusif akan membantu menciptakan suasana pemberitaan yang mendukung ODHA.

2. Fokus pada Edukasi dan Pemberdayaan

Peliputan harus memberikan informasi faktual yang mengedukasi masyarakat tentang pencegahan, pengobatan, dan dukungan sosial, bukan menambah ketakutan.

3. Keseimbangan dalam Penyajian

Jurnalis perlu menjaga keseimbangan berita tanpa membesar-besarkan atau menyepelekan isu.

4. Data yang Akurat dan Terpercaya

Penggunaan data berbasis fakta ilmiah terbaru sangat penting untuk mencegah penyebaran informasi keliru.

5. Kesejahteraan Psikologis ODHA

Dalam menulis kisah ODHA, empati harus menjadi prioritas utama untuk menjaga kesejahteraan psikologis mereka.

6. Menghindari Sensasionalisme

Pemberitaan yang dramatis hanya akan memperparah stigma. Sebaliknya, cerita yang memberdayakan dapat mendorong dukungan publik.

7.  Media Visual yang Edukatif

Gambar dan video yang digunakan harus mendukung pemahaman, bukan mempertegas stereotip negatif.

Komitmen Jurnalis

Ketua Yayasan Pendampingan Kesehatan Terpadu Kota Parepare, Abdul Risal berharap pentingnya peran jurnalis dalam membentuk pemahaman publik tentang HIV/AIDS. Dengan pendekatan yang mendidik dan humanis, media dapat membantu menciptakan masyarakat yang lebih terbuka, empatik, dan mendukung ODHA. “Kita punya tanggung jawab besar dalam menciptakan perubahan positif melalui tulisan kita,” tutupnya.

Workshop ini menjadi langkah penting dalam meningkatkan kualitas peliputan HIV/AIDS di Indonesia dan mendorong jurnalis untuk mengambil peran lebih besar dalam mengedukasi masyarakat. (*)

Pos terkait