Lagi, Nyawa Melayang di Sungai Maros: Kelalaian Sistemik atau Sekadar Menunggu Korban Berikutnya

Wakil Ketua Kehutanan dan Lingkungan Hidup Pemuda Muhammadiyah Kabupaten Maros, A. Asrul 

MAROS – Tragedi kembali berulang di anak sungai Kabupaten Maros. Dua korban jiwa terseret air bah dari hulu yang datang tanpa ampun. Ini bukan insiden pertama dan jika tak ada perubahan serius, besar kemungkinan bukan yang terakhir.

Di balik keindahan wisata alam Maros, tersimpan ancaman yang selama ini seolah dibiarkan. Air bah yang datang mendadak bukan semata soal curah hujan tinggi, melainkan akumulasi dari kerusakan hutan di wilayah hulu dan lemahnya sistem mitigasi bencana.

Bacaan Lainnya

Pertanyaannya kini semakin tajam, apakah ini murni bencana alam atau kegagalan sistemik dalam melindungi keselamatan publik.

Wakil Ketua Kehutanan dan Lingkungan Hidup Pemuda Muhammadiyah Kabupaten Maros, A. Asrul secara tegas menyebut pemerintah tidak bisa lagi bersembunyi di balik narasi faktor alam.

“Setiap kejadian selalu disebut musibah. Tapi di mana tanggung jawab itu. Tidak ada peringatan dini, tidak ada edukasi memadai bahkan pengawasan di lokasi wisata nyaris tak terlihat,”tegasnya, Selasa (01/04/2026).

Fakta di lapangan menunjukkan, banyak kawasan wisata sungai di Maros beroperasi tanpa standar keamanan yang jelas. Papan peringatan minim, informasi risiko nyaris tidak tersedia dan pengunjung dibiarkan masuk tanpa pemahaman kondisi cuaca di hulu.

Ia juga menilai, situasi ini menciptakan satu pola yang berbahaya, bencana datang tiba-tiba, korban berjatuhan, lalu pemerintah hadir setelah semuanya terlambat.

“Jangan tunggu korban berikutnya baru bergerak. Ini bukan sekadar kelalaian kecil, ini kegagalan melindungi warga dan wisatawan,”ucap Asrul.

Ia mendesak Pemerintah Kabupaten Maros segera mengambil langkah tegas dan terukur, mulai dari pemasangan sistem peringatan dini, pembatasan akses wisata saat kondisi berisiko hingga edukasi wajib bagi pengunjung sebelum memasuki kawasan rawan.

Lebih jauh, persoalan ini tidak bisa dilepaskan dari kerusakan lingkungan di hulu. Alih fungsi lahan dan degradasi hutan mempercepat aliran air ke hilir, menjadikan sungai-sungai kecil berubah menjadi jalur maut saat hujan deras.

“Kalau hulu terus rusak dan hilir dibiarkan tanpa proteksi, maka yang kita tunggu hanyalah daftar korban berikutnya,”paparnya.

Tragedi ini seharusnya menjadi titik balik, bukan sekadar catatan duka yang dilupakan. Sebab tanpa intervensi nyata, Maros sedang berjalan menuju krisis, wisata yang tumbuh tanpa keselamatan dan alam yang rusak tanpa kendali.

Kini publik menunggu, apakah pemerintah akan bertindak sebelum korban berikutnya jatuh atau kembali datang hanya untuk mengevakuasi.(*)

Pos terkait