JAKARTA – Indonesia menegaskan posisinya sebagai pusat regenerasi wasit sepak takraw Asia setelah 43 peserta dari 37 provinsi Indonesia serta 6 peserta asal Malaysia sukses menuntaskan Pelatihan Wasit ASTAF di Universitas Negeri Jakarta (UNJ), Jakarta Timur.
Penutupan pelatihan pada Minggu, 19 Juli 2026 menjadi momentum penting ketika Presiden Asian Sepaktakraw Federation (ASTAF) sekaligus Sekretaris Jenderal International Sepaktakraw Federation (ISTAF), Datuk Abdul Halim Kader, menyampaikan apresiasi atas kualitas dan kompetensi wasit muda Indonesia.
Datuk menilai para peserta menunjukkan kemampuan melampaui ekspektasi, dengan dominasi usia produktif yang siap bertugas di berbagai kejuaraan. “Wasit-wasit muda di antara umur 20-an hingga 50 tahun begitu baik keterampilannya,” ujarnya.
Ia menegaskan ASTAF akan menugaskan wasit Indonesia dalam sejumlah kejuaraan, termasuk pada agenda 28 November 2026 mendatang. Hal ini disebut sebagai sinyal positif bagi perkembangan perwasitan sepak takraw Indonesia di tingkat regional maupun internasional.
Ketua Umum Persatuan Sepak Takraw Indonesia (PSTI), Prof Surianto, menyampaikan rasa syukur atas suksesnya pelatihan yang menghasilkan puluhan wasit bersertifikat. “Alhamdulillah, kami telah menyelesaikan seluruh kurikulum dan materi yang telah ditetapkan dalam pelatihan wasit ASTAF,” katanya.
Menurutnya, program ini menjadi bagian dari strategi memperkuat regenerasi perwasitan nasional. PSTI berencana memperluas pelatihan ke berbagai provinsi agar semakin banyak daerah memiliki tenaga wasit berstandar nasional maupun internasional.
“Kami akan membuka pendaftaran di beberapa provinsi sehingga lulusan sekarang bisa langsung memimpin pertandingan, baik di tingkat nasional maupun internasional,” pungkasnya.
Dengan dukungan ASTAF dan ISTAF, serta komitmen PSTI, Indonesia kini berada di jalur strategis untuk melahirkan wasit sepak takraw berkualitas dunia. Momentum ini diyakini akan memperkuat posisi Indonesia sebagai pusat perwasitan sepak takraw Asia.






