PAREPARE– Rabu pagi, 12 Agustus 2026 , D’lima Coffee di Jalan Delima, Kelurahan Mallusetas, mendadak jadi arena pertemuan serius. Aktivis, tokoh masyarakat, agama dipimpin Ketua Forum Peduli Umat Kota Parepare, HA Rahman Saleh, duduk satu meja.
Diskusi panjang soal kondisi bangsa dan daerah, baik sebelum maupun di masa kepemimpinan terbaru Parepare, akhirnya melahirkan satu keputusan membentuk Koalisi Aksi Merdeka Selamatkan Indonesia (KAMI). Agenda aksi pun langsung dipatok. Tanggal 19 Agustus 2026, Gedung DPRD Parepare akan jadi panggung perlawanan.
Momentum Kemerdekaan Jadi Alarm
Ketua Forum Peduli Umat, HA Rahman Saleh, menegaskan bahwa lahirnya KAMI bukan sekadar simbolik. “Pertemuan ini dalam rangka momentum 17-an. Kondisi bangsa semakin ma’ruf rusaknya di semua aspek. Melalui aliansi ini, ormas dan aktivis, tokoh agama berkumpul untuk menggelar aksi keprihatinan. Harapannya, pemerintah sekarang bisa mengeliminir faktor-faktor yang merusak negara, korupsi, perilaku pejabat, penegakan hukum yang tidak adil,” bebernya.
Rahman pun mengutip pesan Imam Ali: “Ketidakadilan bertambah luas bukan karena bertambahnya orang jahat, tapi karena diamnya orang-orang baik.” Menurutnya, KAMI hadir untuk mengisi kekosongan suara moral. “Kami ingin menyuarakan seruan moral kepada pemerintah dan cendekiawan agar ikut ambil bagian memperbaiki negeri ini,” tegasnya.
KAMI bukan partai politik, bukan underbouw kekuatan tertentu, dan tidak sedang berburu kursi kekuasaan. Gerakan ini lahir dari kegelisahan rakyat atas kondisi bangsa yang dianggap jauh dari cita-cita Proklamasi 17 Agustus 1945.
Tiga pilar utama jadi fondasi KAMI:
– Moral – agama dan moralitas sebagai dasar berbangsa.
– Konstitusional – tunduk pada Pancasila dan UUD 1945.
– Kerakyatan – berpihak pada suara rakyat yang terpinggirkan.
Suara Rakyat
Rahman menegaskan, aksi KAMI bukan hanya soal nasional, tapi juga lokal. “Situasi daerah juga sama. Pengelolaan pemerintahan, proyek-proyek, hingga persoalan energi seperti gas, semua harus disuarakan,”ungkapnya.
” Pemerintah harus menerima kritik, merespon masukan, dan menempatkan pejabat berdasarkan profesionalisme, bukan kedekatan,” tambahnya. KAMI menolak tirani, kezaliman, dan segala bentuk pengkhianatan konstitusi. Mereka berdiri untuk kedaulatan politik, kemandirian ekonomi, dan kepribadian dalam kebudayaan.
KAMI menyerukan kepada ulama, cendekiawan, mahasiswa, buruh, tani, nelayan, dan seluruh rakyat Indonesia untuk merapatkan barisan. Misi mereka jelas: Selamatkan Indonesia.
Gerakan ini menolak komunisme, kapitalisme liberal, oligarki, dan segala ideologi yang bertentangan dengan Pancasila. KAMI tidak akan berhenti sebelum bangsa ini kembali pada jati dirinya merdeka, bersatu, berdaulat, adil, dan makmur.
Pertemuan di D’lima Coffee bukan sekadar obrolan warung kopi. Ia menjadi simbol bahwa keresahan rakyat kini menemukan wadah. Parepare, kota pelabuhan yang dikenal sebagai pintu gerbang utara Sulsel, dipilih sebagai titik api gerakan.
Orasi umum, pawai hingga aksi di Gedung DPRD Parepare akan jadi saksi apakah suara rakyat benar-benar didengar atau justru dibungkam. (*)






