Parepare Terlewatkan Detik Proklamasi: Antara Edaran Pusat dan Makna Lokal

Pengibaran bendera merah putih di Lapangan Andi Makkasau, Kota Parepare

PAREPARE– Di tengah gegap gempita peringatan Hari Kemerdekaan RI ke-80 yang menggema di berbagai penjuru negeri, Kota Parepare justru menyisakan ruang hening yang tak semestinya. Upacara peringatan tingkat kota, Minggu, 17 Agustus 2025, yang digelar di Lapangan Andi Makkasau telah usai pukul 09.30 Wita setengah jam sebelum detik-detik proklamasi yang secara nasional diperingati tiap pukul 10.00 Wita.

Tak ada hening cipta. Tak terdengar suara serine kapal dari Pelabuhan Nusantara yang biasanya menjadi penanda reflektif kemerdekaan. Momen sakral yang seharusnya menjadi pengingat perjuangan bangsa, terlewat begitu saja.

Bacaan Lainnya

“Detik-detik proklamasi bukan sekadar seremoni, tapi ruang bersama untuk mengenang perjuangan. Ketika itu terlewat, kita kehilangan makna,” ujar seorang warga di Warkop 588 yang menyaksikan momen tersebut dengan kecewa.

Kritik pun bermunculan dari masyarakat yang merasa kehilangan momentum kebangsaan. Mereka berharap ada koordinasi yang lebih baik agar Parepare tak kembali melewatkan momen sakral yang menjadi simbol persatuan nasional.

Menanggapi sorotan tersebut, Kepala Dinas Kominfo Kota Parepare, Anwar Amir, menjelaskan bahwa pelaksanaan upacara di daerah menyesuaikan dengan surat edaran nasional yang ditandatangani oleh Menteri Sekretaris Negara, Prasetyo Hadi.

“Intinya, kita mengacu pada surat edaran. Upacara di daerah memang disarankan selesai sebelum pukul 10.00 WIB agar masyarakat bisa menyaksikan siaran langsung dari Istana Merdeka,” jelas Anwar.

Ia menambahkan bahwa meski upacara utama telah selesai lebih awal, agenda bersama tetap berlangsung di Lapas Kota Parepare, dan suara serine tetap dibunyikan tepat pukul 10.11 Wita.

Surat edaran yang beredar sejak 12 Agustus 2025 itu mengatur agar seluruh instansi dan masyarakat menyaksikan siaran langsung detik-detik proklamasi dari Jakarta. Upacara di daerah diminta selesai sebelum pukul 10.00 waktu setempat, agar tidak mengganggu momen nasional.

Namun, dalam praktiknya, sinkronisasi waktu dan atmosfer di daerah menjadi tantangan tersendiri. Di Parepare, momen hening cipta dan refleksi justru tak terasa, karena jeda waktu antara upacara lokal dan siaran nasional tidak diisi dengan kegiatan yang menguatkan makna kemerdekaan.

Peringatan kemerdekaan bukan hanya soal seremoni dan jadwal administratif. Ia adalah ruang batin kolektif bangsa untuk mengenang, merenung, dan bersyukur atas perjuangan para pahlawan. Ketika momen itu terlewat, yang hilang bukan hanya waktu, tapi juga rasa.

“Kami berharap ke depan, Parepare bisa lebih peka terhadap makna. Bukan hanya mengikuti edaran, tapi juga menjaga ruh kebangsaan,” tutup warga yang enggan disebutkan namanya.(*)

 

 

Pos terkait