Ribuan Warga Bone Desak Penangkapan Dalang Kerusuhan Demo PBB P2, Ketua DPRD Bantah Terlibat

Pendemo menunjukkan poster yang meminta Ketua DPRD dicopot dan nama-nama lainnya yang minta ditangkap.

BONE— Ribuan warga Bone kembali turun ke jalan, menuntut aparat segera menangkap para dalang kerusuhan dalam aksi demonstrasi Pajak Bumi dan Bangunan Perdesaan dan Perkotaan (PBB P2) yang ricuh pada 19 Agustus lalu.

Aksi damai yang digelar di depan Mapolres Bone ini menjadi simbol perlawanan terhadap manipulasi aspirasi rakyat dan tuntutan atas keadilan yang tertunda.

Bacaan Lainnya

Dalam orasi massa, sejumlah nama disebut sebagai jenderal lapangan dan penggerak aksi anarkis, di antaranya Mantra Bumi, Rafli Fasya, A. Singke, Taufik (Pemuda Pancasila), Ippang, dan Azhar Abdullah. Mereka disebut berasal dari kelompok “Tegak Lurus” dan “Rio”.

Tak hanya itu, Ketua DPRD Bone A. Tenri Walinonong dan seorang tokoh bernama Syakir juga turut disebut dalam tuntutan massa sebagai pihak yang perlu diselidiki lebih lanjut.

Namun, Ketua DPRD Bone A. Tenri Walinonong secara tegas membantah tudingan tersebut. Dalam pernyataan resminya, ia menyatakan tidak pernah terlibat dalam aksi demonstrasi yang berujung kerusuhan.

Ia juga menegaskan bahwa DPRD Bone tetap berkomitmen mendukung aspirasi masyarakat secara konstitusional dan damai, serta mendorong aparat untuk menindak tegas pelaku kerusuhan.

Sementara itu, Abd Rahman, jenderal lapangan aksi damai yang juga mantan Ketua Cabang HMI Bone, menyampaikan ultimatum keras. “Pokoknya segera tangkap dalangnya. Kalau tidak, kami akan turun lagi dengan puluhan ribu massa,” ujarnya lantang.

Kapolres Bone AKBP Sugeng Setyo Budhi membenarkan bahwa pihaknya tengah menyelidiki kericuhan demo PBB P2. Ia menyebut telah mengantongi indikasi kuat bahwa aksi tersebut ditunggangi kelompok anarko.

“Saat ini kami masih kumpulkan bukti-bukti. Salah satunya HP dari demonstran yang diamankan,” ungkapnya.

Gelombang protes ini menunjukkan bahwa masyarakat Bone tidak ingin aspirasi mereka disalahgunakan. Jika aparat tidak segera bertindak, massa mengancam akan kembali turun dengan jumlah yang lebih besar.(*)

Pos terkait