MAKASSAR– Ruang Pola Kantor Gubernur Sulawesi Selatan di Jalan Urip Sumoharjo, Makassar, hari ini menjadi saksi sejarah peringatan 356 tahun Provinsi Sulawesi Selatan. Dalam suasana khidmat dan penuh semangat kebangsaan, Rapat Paripurna Istimewa DPRD Sulsel digelar sebagai puncak perayaan hari jadi provinsi yang dikenal dengan semangat siri’ na pacce ini.
Acara tersebut dihadiri oleh jajaran pimpinan daerah, termasuk Gubernur Andi Sudirman Sulaiman, Wakil Gubernur Fatmawati Rusdi, dan Ketua DPRD Sulsel Andi Rachmatika Dewi. Hadir pula Wakil Menteri Dalam Negeri Komjen Pol (Purn) Akhmad Wiyagus, yang mewakili Menteri Dalam Negeri, serta Wakil Ketua Komisi III DPR RI, Rusdi Masse.
Dalam pidatonya, Wamendagri Akhmad Wiyagus menekankan bahwa peringatan hari jadi ini bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan momentum strategis untuk meneguhkan komitmen pembangunan dan mempererat persatuan.
“Perjalanan panjang Sulawesi Selatan bukan hanya tentang masa lalu yang gemilang, tetapi juga tentang masa depan yang penuh harapan,” ujarnya.
Ia menggambarkan Sulsel sebagai provinsi dengan kekayaan sumber daya yang luar biasa dari sawah subur di Bone dan Wajo, pelabuhan Makassar yang sibuk, kopi harum dari Toraja, hingga hasil laut segar dari Selat Makassar.

Capaian Gemilang, Fondasi Masa Depan
Wiyagus memaparkan sederet capaian pembangunan Sulsel sepanjang 2025 yang patut diapresiasi:
– Pertumbuhan ekonomi di atas 5%, ditopang sektor pertanian, industri pengolahan, perdagangan, dan jasa.
– Indeks Pembangunan Manusia (IPM) mencapai 75,18, mencerminkan kemajuan di bidang pendidikan, kesehatan, dan kesejahteraan.
– Tingkat pengangguran turun ke 4,96%, sementara angka kemiskinan menyentuh 7,6%—terendah dalam beberapa tahun terakhir.
– Inflasi tahunan terkendali di angka 1,67%, berkat operasi pasar dan gerakan pangan murah.
– Indeks SPBE (Sistem Pemerintahan Berbasis Elektronik) mencapai 3,94 (kategori sangat baik), dan pelayanan publik berada di zona hijau.
“Tugas kita berikutnya adalah menerjemahkan capaian itu menjadi layanan publik yang semakin cepat, transparan, dan aman,” tegasnya.
Sulsel juga terus memperkuat konektivitas strategis:
– Jalan akses tol menuju Makassar New Port (MNP) telah beroperasi.
– Layanan Kereta Api Makassar–Parepare lintas Maros–Barru terintegrasi dengan Pelabuhan Garongkong dan MNP.
– Modernisasi Bandara Internasional Sultan Hasanuddin terus dikebut.
Sektor unggulan seperti pertanian, perikanan, dan energi juga menunjukkan geliat positif. Budidaya rumput laut Sulsel kini terbesar secara nasional, membuka peluang hilirisasi produk keragenan dan agar-agar. Di sektor energi, klaster nikel Sorowako didukung pembangkit listrik tenaga air, mendorong industri hijau berkelanjutan.
Enam Langkah Strategis Menuju Sulsel Maju
Wiyagus menyampaikan enam arahan strategis untuk mempercepat pembangunan:
1. Hilirisasi maritim dan pangan melalui Seaweed Industrial Corridor Takalar–Pangkep–Bone–Selayar.
2. Konektivitas logistik terpadu: MNP–Tol–Kereta–Pelabuhan Garongkong.
3. Transformasi layanan publik digital menuju SPBE 4,20 dan open data hingga desa.
4. Inklusi sosial adaptif: geo-targeting kemiskinan, operasi pasar berkala, dan pangan murah.
5. SDM masa depan: vokasi maritim, logistik, nikel–EBT, dan micro-credential digital.
6. Ketahanan iklim dan pesisir: rehabilitasi mangrove, asuransi budidaya, dan early warning system laut.
“Sulawesi Selatan adalah simpul harapan Indonesia Timur. Pelabuhan kita ramai, rel kereta mengalirkan logistik, layanan publik makin cepat dan bersahabat. Itulah bukti hadirnya negara di tengah rakyat,” tandasnya.
Multiyears Project Rp3,7 Triliun
Sebelum menyampaikan sambutan, Wiyagus bersama Gubernur Andi Sudirman, Wagub Fatmawati Rusdi, dan Ketua DPRD Rachmatika Dewi meluncurkan Program Multiyears Project (MYP) 2025–2027 senilai Rp3,7 triliun.
Proyek ini mencakup:
– Penanganan jalan provinsi: Rp2,51 triliun
– Pembangunan jaringan irigasi: Rp764 miliar
– Pembangunan Rumah Sakit Regional: Rp433 miliar
Langkah ini diharapkan mempercepat konektivitas, memperluas akses layanan kesehatan, dan memperkuat fondasi ekonomi daerah secara merata.
“Selama layar masih terkembang dan angin kebijakan berpihak pada rakyat, kita tidak akan berlabuh sebelum sampai ke tujuan,” tutup Wamendagri, disambut tepuk tangan meriah dari peserta rapat paripurna.(*)






