JK Ingatkan: Pemangkasan Anggaran Bisa Matikan Kontraktor

JK hadiri Rapat Kerja dan Konsolidasi Nasional (Rakerkonas) Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO) ke-XXXV

MAKASSAR– Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 RI, Jusuf Kalla, menegaskan bahwa ketahanan ekonomi nasional hanya dapat terjaga apabila terdapat sinergi yang kuat antara pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat.

Hal tersebut disampaikan JK saat membuka Rapat Kerja dan Konsolidasi Nasional (Rakerkonas) Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO) ke-XXXV di Hotel Claro Makassar, Senin, 3 Agustus 2026.

Bacaan Lainnya

Menurut JK, sebuah negara yang ingin maju harus memiliki tiga komponen utama yang saling menopang, pemerintahan yang baik, pengusaha yang produktif, serta masyarakat yang aktif sebagai konsumen sekaligus produsen.

Ia menekankan bahwa pemerintah berperan menciptakan regulasi yang sehat, membangun infrastruktur, dan menyediakan layanan publik yang efektif. Sementara itu, pengusaha menjadi motor penggerak ekonomi dengan membuka lapangan kerja, membangun industri, dan memberikan kontribusi melalui pajak.

“Yang membangun ekonomi adalah para pengusaha, karena pengusaha membuka lapangan pekerjaan, menciptakan industri, mempekerjakan banyak orang, dan membayar pajak,” ujarnya.

JK juga menyoroti pentingnya keseimbangan antara peran negara dan mekanisme pasar. Ia menilai perkembangan ekonomi dunia menunjukkan adanya pergeseran pola, dari dominasi pasar bebas menuju peran negara yang kembali lebih kuat.

Keberhasilan ekonomi, menurutnya, bergantung pada kemampuan menjaga keseimbangan antara kebijakan pemerintah dan aktivitas dunia usaha. “Yang penting adalah keseimbangan antara pemerintah dan dunia usaha,” jelasnya.

Tantangan Ekonomi Indonesia

Dalam forum tersebut, JK mengingatkan bahwa ekonomi Indonesia saat ini menghadapi tekanan dari faktor eksternal maupun internal. Dari sisi global, konflik internasional seperti perang di Timur Tengah dan Ukraina berdampak pada kenaikan harga energi, biaya produksi, serta persaingan ekonomi yang semakin ketat, termasuk dengan Tiongkok. “Pengaruh ekonomi dunia tidak bisa kita hindari. Harga minyak naik, ongkos naik, ekspor bisa turun,” ungkapnya.

Selain itu, kebijakan domestik seperti peningkatan utang dan defisit anggaran juga perlu dikelola dengan hati-hati agar tidak menimbulkan risiko jangka panjang. JK menambahkan bahwa ancaman perubahan iklim, termasuk fenomena El Nino, dapat menurunkan produksi pertanian dan berimbas pada daya beli masyarakat. “Perubahan iklim akan menyebabkan hasil pertanian menurun. Akibatnya konsumsi masyarakat juga akan berubah,” ujarnya.

Dorong Produktivitas Daerah dan Ekspor

JK menekankan pentingnya peran pemerintah daerah dalam mendorong produktivitas masyarakat, khususnya sektor yang memiliki potensi ekspor. Ia mencontohkan daerah-daerah di luar Jawa yang memiliki basis komoditas ekspor seperti kopi, kakao, dan hasil laut.

Menurutnya, sektor tersebut masih memiliki peluang pertumbuhan karena mendapatkan keuntungan dari penerimaan dolar. “Berikan insentif dan kemudahan kepada komunitas yang melakukan ekspor, sehingga masyarakat mendapatkan pendapatan lebih besar,” kata JK.

Ia juga mengingatkan agar belanja negara tetap efektif. Menurutnya, pengurangan anggaran secara berlebihan dapat melemahkan aktivitas ekonomi, mulai dari pembayaran pegawai hingga berkurangnya pekerjaan bagi sektor kontraktor.

Pentingnya Hubungan Pengusaha dan Buruh

Dalam forum pengusaha tersebut, JK turut menyinggung peran Apindo dalam menjaga hubungan harmonis antara pengusaha dan pekerja. Ia menekankan bahwa keseimbangan hubungan industrial sangat penting agar produktivitas ekonomi tetap terjaga.

Kebijakan pengupahan, menurutnya, harus mempertimbangkan faktor inflasi dan pertumbuhan ekonomi agar daya beli pekerja tidak menurun. “Kalau inflasi tidak dimasukkan dalam perhitungan gaji buruh, maka pendapatan riil buruh akan turun. Kalau pendapatan riil turun, produktivitas juga akan menurun,” jelasnya.

JK berharap Apindo terus menjadi wadah yang memperkuat kerja sama antara pengusaha, pekerja, dan pemerintah dalam menghadapi tantangan ekonomi. Ia menegaskan bahwa kondisi ekonomi selalu mengalami siklus naik dan turun, sehingga yang dibutuhkan adalah daya tahan dan semangat untuk terus berusaha. “Tidak ada ekonomi yang turun terus menerus atau naik terus menerus. Selalu ada siklus. Karena itu yang dibutuhkan adalah daya tahan,” pungkasnya.

Pos terkait