JAKARTA – Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Kemendes PDT) terus memperkuat langkah hilirisasi produk unggulan desa guna menembus pasar ekspor internasional. Upaya tersebut diwujudkan melalui rencana kerja sama strategis dengan Indonesia Diaspora SME Export Empowerment & Development (ID SEED) untuk memasarkan hasil olahan desa ke berbagai negara, termasuk kawasan ASEAN dan Arab Saudi.
Komitmen itu disampaikan Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal, Yandri Susanto, saat menerima audiensi ID SEED di Kantor Kemendes PDT, Jakarta, Selasa (12/5/2026).
Dalam program tersebut, sejumlah komoditas unggulan desa seperti lada, cabai, bawang merah, serai, pisang, dan berbagai hasil bumi lainnya akan didorong menjadi produk olahan bernilai tambah, mulai dari bumbu siap pakai, selai, hingga makanan olahan untuk kebutuhan ekspor.
“Ini hilirisasi karena kita ekspornya bentuk jadi bumbu bukan bahan mentah lagi. Konkretkan dari segi harga berapa, jumlahnya berapa, rentang pengiriman berapa lama, dan lain sebagainya. Jadi masyarakat tidak jual gelondongan lagi tapi hilirisasi jadi ada nilai tambah,” tegas Yandri.
Kemendes PDT juga akan melibatkan Badan Usaha Milik Desa (BUMDesa) yang memiliki potensi komoditas unggulan sesuai kebutuhan pasar internasional. Pemerintah memastikan proses kerja sama akan dibangun secara terukur, mulai dari kepastian harga, kapasitas produksi, hingga skema distribusi.
Program ekspor produk desa sendiri menjadi salah satu dari 12 rencana aksi strategis Kemendes PDT. Langkah tersebut dinilai sejalan dengan pengembangan Global Market Access Hub milik ID SEED yang menyasar pasar ASEAN dan Timur Tengah.
Menurut Yandri, potensi sumber daya alam desa yang beragam dapat menjadi kekuatan ekonomi baru apabila dikelola secara maksimal dan terintegrasi. Karena itu, kualitas produk dan kesinambungan pasokan menjadi perhatian utama dalam mendorong daya saing global.
“Pendampingan ini nanti sama BRIN biar mendampingi mutu dan kualitasnya. Juga kerahkan pendamping desa untuk mengawal desa tematik. Jadi saat berkontrak, para pendamping akan mengawalnya,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua Umum ID SEED, Ira Damayanti, mengatakan pihaknya memilih desa sebagai mitra strategis dalam memperkuat ekspor nasional karena melihat besarnya potensi dan ketekunan masyarakat desa dalam mengembangkan produk unggulan.
Ia menilai hilirisasi menjadi kunci agar produk desa memiliki nilai ekonomi lebih tinggi dan mampu bersaing di pasar global secara berkelanjutan.
“Hilirisasi produk unggulan desa memang menjadi konsern kami agar ada nilai tambah. Ini nanti akan sustain dan harganya juga akan berbeda dibandingkan bahan mentah,” tuturnya.
Untuk mempercepat realisasi program tersebut, Kemendes PDT dan ID SEED berencana melakukan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) langsung di desa-desa penghasil komoditas unggulan. Langkah itu dilakukan agar kerja sama memiliki dasar hukum yang kuat sekaligus berbasis data kebutuhan pasar dan kapasitas produksi desa.(*)






