KM Pantokrator Bawa 43 PMI Deportasi, 1 Loncat di Dermaga Nunukan

P4MI Parepare data pekerja migran nonprosedural yang tiba di Pelabuhan Nusantara

PAREPARE– Hari ini, Senin, 24 Agustus 2026, Pelabuhan Nusantara Parepare kembali menjadi panggung kepulangan pekerja migran nonprosedural. Dari total 44 orang yang dijadwalkan tiba, hanya 43 PMI yang benar-benar menjejakkan kaki di pelabuhan.

Capt KM Pantokrator, Ashar BZ Umar, mengungkapkan bahwa seorang PMI memilih jalan berbeda. “Ia ada satu loncat kembali ke dermaga saat kapal hendak meninggalkan Tunon Taka Nunukan,” singkat Ashar, Senin, 24 Agustus 2026.

Bacaan Lainnya

Koordinator P4MI Parepare, Laode Nur Slamet, menambahkan bahwa PMI yang loncat tersebut adalah warga Bone. “Dari keterangan sejumlah rekan-rekannya, ia memang tidak ingin pulang. Saat ini, dia telah diamankan pihak BP3MI Kalimantan Utara,” jelas Laode.

Potret Buram di Balik Kepulangan

Dari pantauan, kondisi 43 PMI yang tiba di Parepare jauh dari kata sehat. Banyak di antaranya menderita penyakit kulit (kurap) akibat lingkungan penahanan yang tidak layak.

Salah satu dari mereka, Nasruddin, pria kelahiran Tawau, menceritakan pengalaman getirnya. “Saya ditahan selama 4 bulan di penjara Kepayan, Keke. Ada 100 lebih orang yang ditahan. Kondisi air kotor, banyak sampah dan berulat,” ungkapnya.

Kisah Nasruddin bukan satu-satunya. Yusep Tutoq, warga NTT, juga menuturkan pengalaman pahitnya. Ia ditangkap karena masuk secara ilegal dan dijebloskan ke penjara Kepayan.

“Kami tidur berdesakan, lantai dingin, udara pengap. Tidak ada ruang untuk bernapas. Air minum pun keruh, bercampur sampah. Banyak teman yang jatuh sakit, ada yang kulitnya penuh luka,” kata Yusep.

Bagi Yusep, penjara bukan sekadar hukuman, melainkan ruang penderitaan. “Setiap hari seperti menunggu giliran sakit. Tidak ada perawatan, tidak ada kepedulian. Kami hanya angka bagi mereka,” ujarnya.

Beruntung, Nasruddin mendapat pendampingan dari P4MI Parepare, setelah pihak pemerintah daerah asal tujuan tak mengubris kepulangan wargannya. Ia dipulangkan ke Dusun Balimbongan, Desa Tungka, Kecamatan Enrekang, bersama rombongan PMI asal Tana Toraja. “Kita sudah hubungi pihak keluarganya, dan ia akan dijemput di jalan,” tutup Laode.

Peristiwa ini menegaskan bahwa deportasi bukan sekadar angka di atas kertas. Ada kisah manusia di baliknya. Tanpa langkah serius, siklus migrasi ilegal akan terus berulang, berangkat tanpa dokumen, ditangkap, dipulangkan, lalu kembali mencoba peruntungan.(*)

Pos terkait