MANGGARAI– Di tengah reruntuhan dan tenda-tenda pengungsian yang berderet di Kecamatan Reok, Manggarai, suara megaphone relawan PMI menggema seperti alarm darurat: “Ada RS Lapangan di Barang Kolong, buka 24 jam, semua korban bisa berobat!” Begitulah cara Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Manggarai bersama pemerintah kecamatan memastikan informasi vital sampai ke telinga masyarakat yang sedang kebingungan mencari pertolongan.
Gempa bumi bukan hanya merobohkan rumah, tapi juga melumpuhkan fasilitas kesehatan. Puskesmas dan klinik banyak yang rusak, sebagian tidak beroperasi penuh. Akibatnya, titik-titik pengungsian masih kosong dari layanan medis. Di celah itulah PMI dan SIBAT turun tangan, menjadikan informasi sebagai “obat pertama” sebelum masyarakat bisa benar-benar mendapat perawatan.
Adrian Jeharun dari Divisi Pelayanan PMI NTT menegaskan, informasi kini sama berharganya dengan oksigen: “Di situasi darurat, masyarakat harus tahu ke mana mencari pertolongan. RS Lapangan ini jadi harapan, dan PMI memastikan kabar itu sampai ke semua pengungsian.”
Rute Informasi Darurat
– Empat titik pengungsian di Kerukuak, Kelurahan Wangkung
– Enam tenda pengungsian di Desa Salama, Kota Reo
– Tiga tenda pengungsian di Kedutul, Kelurahan Mata Air
PMI bersama pemerintah setempat terus memetakan lokasi pengungsian lain yang masih “gelap informasi” agar tidak ada korban yang terabaikan.
Sejak Sabtu, 15 Agustus 2026, RS Lapangan Barang Kolong resmi beroperasi 24 jam. Didukung tenaga medis dari RS Pratama Reo, Puskesmas Reo, Dinas Kesehatan Manggarai, hingga tenaga kesehatan lokal, fasilitas ini dilengkapi tenda pelayanan, obat-obatan, peralatan medis, enam unit ambulans, dan tabung oksigen.
Di tengah darurat, RS Lapangan bukan sekadar tenda medis, tapi simbol bahwa negara dan relawan hadir. Bagi masyarakat Reok yang terdampak gempa, alamat pertolongan kini jelas: Barang Kolong, buka 24 jam, siap melayani siapa saja yang butuh pengobatan.






