JAKARTA— Langit Istana Negara pagi itu menjadi saksi bisu sebuah perjalanan luar biasa. Dalam upacara kenegaraan yang khidmat dan penuh makna, Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto resmi menganugerahkan Bintang Mahaputera Utama kepada H Samsudin Andi Arsyad, pengusaha nasional asal Batulicin, Kalimantan Selatan, yang lebih dikenal sebagai Haji Isam.
Penghargaan ini bukan sekadar simbol kehormatan negara. Ia adalah pengakuan atas jejak perjuangan seorang anak bangsa yang lahir dari kesederhanaan, meniti jalan terjal kehidupan, dan kini berdiri sebagai salah satu tokoh penting dalam pembangunan ekonomi dan sosial Indonesia.
“Tanda kehormatan ini kami berikan kepada tokoh-tokoh yang telah berjasa besar dalam memperkuat persatuan, pendidikan, kepemimpinan sosial, dan kemajuan masyarakat sipil,” ujar Presiden Prabowo dalam pidatonya.
Selain Haji Isam, penghargaan serupa juga dianugerahkan kepada dua tokoh besar bangsa:
– Prof. Haedar Nashir, Ketua Umum PP Muhammadiyah, atas kontribusinya dalam pendidikan, kesehatan, dan gerakan sosial.
– KH. Miftachul Akhyar, Rais Aam PBNU, atas perannya memperkuat Islam rahmatan lil ‘alamin dan menjaga kerukunan nasional.
Haji Isam bukanlah nama yang lahir dari privilese. Ia tumbuh dari keluarga sederhana, pernah menjadi tukang ojek dan sopir kayu. Namun, semangatnya tak pernah kecil.
Dengan kerja keras dan visi besar, ia mendirikan Jhonlin Group, konglomerasi asal Kalimantan Selatan yang kini merambah sektor pertambangan, logistik, pelabuhan, hingga energi terbarukan melalui PT Jhonlin Agro Raya.
Lewat usahanya, ribuan lapangan kerja tercipta, rantai pasok industri diperkuat, dan kontribusi nyata bagi perekonomian nasional terus mengalir. Namun, Haji Isam tak berhenti di bisnis.
Di Kabupaten Tanah Bumbu, jejak sosial Haji Isam begitu terasa. Ia terlibat aktif dalam pembangunan infrastruktur, pengembangan kawasan industri dan pelabuhan lokal, serta berbagai program kemanusiaan, pendidikan, dan keagamaan.
“Haji Isam adalah pekerja keras yang bukan hanya membangun usaha, tetapi juga memperkuat ekonomi kerakyatan. Kisahnya menjadi teladan bagaimana kerja keras bisa mengubah nasib sekaligus memberi manfaat luas bagi bangsa,” tegas pembawa acara kenegaraan.
Penghargaan Bintang Mahaputera Utama yang kini disematkan di dada Haji Isam bukan hanya miliknya. Ia adalah milik masyarakat Batulicin, Kalimantan Selatan, dan seluruh anak bangsa yang percaya bahwa kerja keras, integritas, dan kepedulian sosial adalah jalan menuju kemajuan.
Sosok Haji Isam menjadi bukti bahwa putra daerah mampu berdiri sejajar di panggung nasional, membawa semangat lokal untuk membangun Indonesia yang lebih inklusif, kuat, dan berdaya saing.(*)






