Tekanan Resesi Makin Menguat, Bagaimana Indonesia ?

KILASSULAWESI.COM, JAKARTA – Gelombang resesi makin menguat. Saat ini ada lima negara yang berada di jurang resesi, yaitu Inggris, Jerman, Italia, Singapura, dan Hongkong. Bagaimana dengan Indonesia? Analisis Riset PT Capital Asset Management, Desmon Silitonga mengatakan, Indonesia saat ini masih jauh dari tekanan resesi. Meski melambat, namun pertumbuuhan ekonomi masih bertahan di level 5 persen. Hal ini membuat tingkat kesehatan sektor keuangan tetap terjaga.

Namun, menurut dia, pemerintah jangan dulu berpuas diri. sebab koordinasi dan solidaritas harus ditingkatkan dan mengambil bauran kebijakan yang terukur dan cepat agar siklus ekonomi yang melambat ini tidak berlanjut. “Harap dicatat bahwa Bank Dunia memproyeksikan pertumbuahan ekonomi domestik tahun 2020 berpotensi berada di bawah 5 persen,” ujar Desmon dalam keterangannya, kemarin .

Menurut dia, ada ada beberapa indikator ekonomi yang menunjukkan tren melambat. Diantaranya Indeks PMI Manufaktur di September 2019 berada di fase kontraksi di level 49, Indeks Penjualan Ritel (IPR) yang menggambarkan indikator daya beli hanya tumbuh 2,4 persen di Juli 2019.

Selain itu, lanjut dia, indikator di pasar finansial juga tidak terlalu menggembirakan. Pertumbuhan kredit di Agustus 2019 kembali turun menjadi 8,9 persen (yoy). Indeks pasar saham (IHSG) cenderung tertekan Pasar finansial masih rentan mengalami capital outflow, akibat ketidakpastian eksternal, yang dapat menekan nilai tukar rupiah.

Nah saran dia, melihat hal itu pemerintah harus memaksimalkan daya serap belanja Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) agar daya beli tetap tinggi. Tak hanya itu, pemerintah daerah juga harus terus didorong menyerap belanja dan tidak lagi memarkir di bank. Pemerintah harus berani melonggarkan besaran defisit, mengingat kinerja penerimaan pajak yang sangat serat.

“Dan, pemerintah juga harus secepatnya membereskan berbagai regulasi yang menghambat investasi (FDI). Kasus 33 perusahaan yang memilih mengalihkan investasinya ke negara tetangga, menunjukkan Indonesia belum dipandang ramah bagi investasi global,” tutur dia.

Terpisah, Peneliti Institute for Development of Economic and Finance (Indef), M Rizal mengatakan untuk mengantisipasi resei pemerintah perlu melakukan optimalisasi kebijakan fiskal dan moneter. Dari sisi fiskal yakni peningkatan penanaman modal Luar Negeri (LN) sesuai dengan kebutuhan dan peningkatan produktivitas terutama di sektor manufaktur.

Sementara kebijakan moneter yaitu pemerintah harus mengendalikan nilai tukar Amerika Serikat (AS), terhadap Rupiah. Hal itu demi mendorong perbaikan neraca pembayaran. “Jadi memang perlu sinergi antara ekspansi fiskal dan ekspansi moneter dalam waktu yang bersamaan. Di mana antara Bank Indonesia melakukan koordinasi untuk antisipasi baik dalam jangka waktu pendek, maupun panjang,” ujar Rizal kepada Fajar Indonesia Network (FIN), kemarin.

Sebelumnya Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas, Bambang Brodjonegoro memastikan Indonesia tidak akan terkena resesi karena memiliki anggaran yang solid dengan merancang APBN yang rasional. “Intinya kita harus punya anggaran yang solid untuk mengantisipasi potensi resesi dunia 2020, karena itu targetnya dibuat serasional mungkin,” ujar Bambang.

Kata Bambang, pemerintah telah menyiapkan pengalokasian RAPBN 2020 di mana salah satunya untuk pencegahan dampak terburuk resesi. Resesi itu adalah kemerosotan pertumbuhan ekonomi dalam kuartal berturut-turut dalam satu tahun. “Alokasi penganggarannya pun dibuat dengan upaya untuk mencegah dampak terburuk resesi yang kemungkinan terjadi di 2020,” ucap dia,

Presiden Joko Widodo (Jokowi) juga sempat meminta ke jajaran menterinya untuk membuat strategi-strategi untuk antisipasi dalam menghadapi krisis ekonomi. “Payung harus kita siapkan, kalau hujannya besar, kita enggak kehujanan. Kalau gerimis kita enggak kehujanan,” kata Jokowi.

Mantan Gubernur DKI Jakarta itu, melihat resesi sudah terjadi di beberapa negara. Dia mencontohkan, mata uang yuan dan peso yang mengalami depresiasi. “Tantangan itu harus kita antisipasi, hadapi, dan kita harapkan, langkah-langkah antisipatif sudah benar-benar konkret kita siapkan dan berharap, perlambatan pertumbuhan ekonomi dan dampak dari resesi bisa kita hindarkan,” ujarnya.(FIN)

Pos terkait