JAKARTA– Pada malam ke-9 Ramadan, Masjid Istiqlal kembali menjadi saksi pertemuan antara ilmu pengetahuan dan spiritualitas. Prof. Dr. Taruna Ikrar, M.Biomed, Ph.D., seorang ilmuwan neurosains Indonesia yang telah diakui dunia, memberikan ceramah tarawih yang mendalam dan inspiratif. Dengan rekam jejak gemilang, termasuk paten metode pemetaan otak manusia sejak 2009, Prof. Taruna memadukan sains dan agama dalam ceramahnya yang bertajuk ” Keajaiban Sujud dalam Salat “.
Dalam ceramah tersebut, Prof. Taruna memaparkan temuan-temuan ilmiah mengenai manfaat kesehatan dari gerakan sujud. Ia menjelaskan bahwa posisi kepala yang lebih rendah dari jantung saat sujud memungkinkan aliran darah kaya oksigen mengalir lebih optimal ke otak.
Hal ini mendukung fungsi kognitif, memperkuat koneksi saraf, serta meningkatkan neuroplastisitas, yaitu kemampuan otak untuk beradaptasi dan membentuk koneksi baru. Selain itu, sujud juga terbukti menurunkan kadar hormon stres kortisol, memberikan rasa tenang, serta membantu menyeimbangkan emosi. ” Sujud bukan hanya ritual ibadah, tetapi juga bentuk terapi alami untuk otak dan kesehatan mental,” ungkapnya.
Lebih dari sekadar manfaat fisik, Prof. Taruna juga mengingatkan akan kedalaman spiritual yang terkandung dalam gerakan ini. Mengutip sabda Rasulullah ﷺ: “Seorang hamba paling dekat dengan Rabb-nya adalah ketika ia sedang bersujud, maka perbanyaklah doa di dalamnya” (HR. Muslim), ia menegaskan bahwa sujud adalah simbol ketundukan, kepasrahan, dan kedekatan batin dengan Allah.
Ceramah ini pun menggugah para jamaah untuk memaknai kembali ibadah shalat mereka. Dengan penuh semangat, Prof. Taruna mengajak umat Muslim untuk menjaga shalat, memperbanyak sujud, serta meningkatkan kekhusyukan dalam ibadah.
Menurutnya, upaya ini tidak hanya memperkuat hubungan spiritual dengan Sang Pencipta tetapi juga memberikan keberkahan berupa kesehatan lahir dan batin. Sebagai seorang ilmuwan yang telah menerbitkan banyak penelitian di jurnal internasional, Prof. Taruna tidak hanya berdakwah, tetapi juga mengedukasi umat.
Karya-karya ilmiahnya tentang kesehatan otak dan neurologi telah memberi kontribusi besar dalam dunia medis, termasuk pengembangan vaksin dan terapi neurologis yang berdampak global.
“Marilah kita hidupkan keajaiban sujud dalam keseharian kita. Dengan menjaga shalat dan meningkatkan kekhusyukan, kita tidak hanya memperoleh ketenangan jiwa tetapi juga kesehatan fisik yang optimal,”tutupnya.
Ceramah inspiratif ini menjadi pengingat indah di bulan suci Ramadan, bahwa ibadah dalam Islam tidak hanya menjadi jalan mendekatkan diri kepada Allah, tetapi juga sarana mencapai kebahagiaan dan keseimbangan hidup.
Masjid Istiqlal kembali menjadi tempat refleksi dan pembelajaran, memperkuat komitmen umat Islam dalam menghidupkan nilai-nilai spiritual dan ilmiah di kehidupan sehari-hari.(*)






