PAREPARE— Ratusan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Kota Parepare menggelar aksi unjuk rasa damai yang diwarnai dengan simbol-simbol perlawanan. Dimulai dari Lapangan Andi Makkasau, massa melakukan long march menuju Mapolres Parepare sambil membawa puluhan spanduk bertuliskan tuntutan seperti “Tolak Tunjangan DPR”, “Reformasi Polisi”, “Sahkan RUU Perampasan”, “DPR Perampok Rakyat”, dan “Evaluasi Kinerja Polri”.
Gabungan mahasiswa dari IAIN, UMPAR, ITH, Institut Andi Sapada, dan UNM diterima langsung oleh Kapolres Parepare AKBP Indra Waspada Yuda dan Danyon Brimob Parepare. Aksi ini menjadi ruang terbuka bagi mahasiswa untuk menyampaikan aspirasi secara langsung kepada aparat.
Dalam orasinya, mahasiswa menyuarakan keresahan terhadap ketidakadilan dan tindakan aparat yang dinilai tidak bertanggung jawab. “Kami turun ke jalan bukan untuk membuat keributan, tapi bagaimana kekhawatiran dan ketakutan masyarakat itu tersampaikan,” ujar salah satu orator. Seruan “Hidup mahasiswa, hidup perempuan yang melawan bagi rakyat Indonesia!” menggema di sepanjang jalan.
Sebagai simbol perlawanan, mahasiswa membakar ban di pintu masuk Polres Parepare, mengakibatkan kepulan asap hitam yang menyelimuti gerbang utama. Aksi ini dimaknai sebagai bentuk ekspresi atas kemarahan dan kekecewaan terhadap berbagai kejadian yang merenggut nyawa masyarakat serta ketimpangan hukum yang dirasakan.
“Kami tidak takut dan tidak rela,” tegas mereka, menandakan bahwa suara mahasiswa adalah suara nurani yang tak bisa dibungkam. Meski aksi berlangsung dengan tensi tinggi, mahasiswa tetap menegaskan bahwa tujuan mereka adalah menyampaikan aspirasi, bukan menciptakan kerusuhan.
Hingga berita ini disiarkan aksi masih berlanjut dengan penyampaian aspirasi oleh mahasiswa.(*)






