MAROS — Suasana berbeda menyelimuti halaman SMA Negeri 8 Mandai, Kabupaten Maros, pada Jumat pagi, 10 Oktober 2025. Sekitar 50 siswa dari berbagai jenjang berkumpul bukan untuk mengikuti ujian atau perlombaan, melainkan untuk belajar menjadi pribadi tangguh dan siap siaga menghadapi bencana.
Kegiatan ini merupakan bagian dari program Sekolah Pendidikan Aman Bencana (SPAB) yang digagas oleh Pertamina Patra Niaga Regional Sulawesi melalui Aviation Fuel Terminal (AFT) Hasanuddin. Mengusung pendekatan edukatif yang seru dan interaktif, program ini menggandeng Lingkar Topografi Indonesia (LITOF) dan BPBD Kabupaten Maros sebagai mitra pelaksana.
Para siswa tidak hanya menyimak teori, tetapi juga terlibat langsung dalam simulasi penanganan bencana. Mulai dari pengenalan potensi bencana lokal, pelatihan pertolongan pertama, hingga praktik evakuasi korban dilakukan dengan penuh semangat.
“Awalnya saya bingung dan takut salah saat belajar cara menolong korban. Tapi setelah dijelaskan dan mencoba langsung, ternyata bisa juga ya! Sekarang saya jadi lebih percaya diri kalau suatu saat dibutuhkan,” ujar Sulastri Reski, Ketua OSIS SMA 8 Mandai, usai mengikuti simulasi.
Sesi evakuasi menjadi momen paling dinanti. Tawa dan antusiasme siswa menghiasi halaman sekolah saat mereka belajar teknik mengangkat korban dengan benar dan aman. Meski dilakukan dengan suasana santai, pesan yang disampaikan sangat kuat: keselamatan adalah tanggung jawab bersama.
Kepala Sekolah SMA 8 Mandai, Asriyani S.Pd., menyambut baik inisiatif ini. Ia menekankan pentingnya membangun budaya tanggap bencana sejak dini.
“Bencana bisa datang kapan saja dan tidak bisa ditebak. Dengan membiasakan siswa peka dan tanggap sejak dini, kita sedang membangun pondasi keselamatan untuk masa depan. Kami sangat mengapresiasi keterlibatan Pertamina dalam mendukung kegiatan ini,” ujarnya.
Bagi Pertamina Patra Niaga Sulawesi, keterlibatan dalam SPAB merupakan bagian dari komitmen sosial perusahaan terhadap masyarakat sekitar. Aviation Fuel Terminal Manager Hasanuddin, Andreas Yanuar Arinawan, menyampaikan bahwa edukasi kebencanaan adalah langkah strategis untuk memperkuat ketahanan komunitas.
“Kami ingin hadir sebagai bagian dari komunitas yang kuat dan siap menghadapi situasi darurat. Harapannya bukan hanya siswa, tapi juga sekolah dan keluarga mereka bisa menjadi lebih siap dan peduli terhadap lingkungan sekitar,” jelas Andreas.
Area Manager Communication, Relation & CSR Pertamina Patra Niaga Regional Sulawesi, T. Muhammad Rum, menambahkan bahwa kegiatan ini juga menjadi bentuk nyata dukungan terhadap Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya SDG 4 (Pendidikan Berkualitas), SDG 11 (Kota dan Komunitas Berketahanan), serta SDG 13 (Aksi terhadap Perubahan Iklim).
Melalui SPAB, Pertamina bersama LITOF dan BPBD Maros menanamkan nilai penting kepada generasi muda: bahwa setiap orang bisa menjadi penolong, bahkan sejak usia sekolah. Tak harus menjadi relawan atau petugas, cukup tahu apa yang harus dilakukan dan berani mengambil peran.(*)






