Terkisahkan zaman dahulu hiduplah beberapa pemuda, sebelumnya satu-sama lain saling terpencar dan tidak saling kenal hingga karena satu hajat berupa suatu azam besar yang sama, masing-masing bertemu di suatu tempat dan kesempatan tersebut menjadi kisah monumental yang disebut dengan “Ashabul Kahfi.” Disebut demikian, para pemuda bertekad kuat tersebut akhirnya terkumpul di dalam gua hingga beratus tahunnya.
Oleh: Nazwar, S. Fil. I., M. Phil. (Penarasi Jogja Sumatera)
Apa yang mereka membuat mereka kuasa berada di sana, sebagaimana lumrah dikisahkan mereka adalah dari lingkungan orang berada, berlama-lama di dalam gua buat cari apa?! Di situlah intinya, para pemuda ke sana beramai-ramai tidak sedang bersekua-ria, tidak sedang mencari apa saja, bahkan tidak melakukan apa-apa. Di sana mereka hanya tertidur, bareng-bareng dan sangat lama.
Tidur sebagai Jawaban
Ingatkah kita beberapa kisah yang sering diulang semasa sekolah tentang orang-orang yang mencari jawaban atas persoalan, ada Sidharta Gautama yang terheran-heran melihat kehidupan di luar kebiasaannya yaitu di dalam istana, atau para filsuf atau para sufi yang mencari jalan kebenaran serta kebijaksanaan meski obor agama telah menyala?!
Yah, latarbelakang kisah tersebut relatif sama, sama-sama mencari pencerahan di luar kebiasaan sebagaimana oleh masyarakat arus utama.
Para pemuda yang kemudian disebut “Ashabul Kahfi” tersebut mendapat kaumnya tenggelam dalam kesesatan. Kehidupan yang dihadapi bergelimang kesalahan demi kesalahan, dari tingkat terendah sampai kezaliman yang memuncak oleh masyarakat, tokoh, sampai pemimpin tertinggi mereka. Setiap orang dari setiap lapisan tersebut berlomba sedemikian rupa untuk melakukan kejahatan, masing-masing sombong dengan perbuatan, hasil dan pengaruh dari perilaku tersebut sampai-sampai dapat dikatakan hampir semua jenis kejahatan telah mereka lakukan.
Kalau sudah begitu, berjibaku dengan kezaliman sedikitpun tidak lagi memberi ruang, bahkan kejahatan “sudah tidak terkalahkan”, saat itulah para pemuda, Ashabul Kahfi tersebut memainpan peran. Tidak berperang dengan kejahatan, tidak juga menghunus pedang untuk memerangi orang-orang maupun berperan yang sebagai pemuda tidak berguna di tengah-tengah kehidupan manusia, mereka justru melarikan diri dari itu semua, hingar-bingar dunia menuju ke dalam gua dan tertidur di sana.
Amalan tidak Telulu Bersifat Keutamaan
Bukan hendak mengkritik fatwa ulama ataupun menggugat pakem-pakem kebenaran, baik tentang amalan prioritas maun “fadliilah” atau amalan mana yang memiliki keutamaan sehingga senantiasa didahulukan, namun sebagai alasan yang disebut dalam kisah di atas, saat orang-orang tidak sekedar sibuk namun cenderung “mabuk” dan satu sama lain beramal dengan penuh kesombongan dengan tujuan zalim dan kejahatan serta sesat, maka Allah dengan mudah saja memeliharanya, kebenaran tersebut dengan menidurkan mereka.
Namun tentu hikmah tidur sebagaimana terjadi dalam kisah tersebut adalah terhadap perbuatan atau amal keji dan dosa bukan amal salih. Sebaliknya terhadap kebaikan justru perlu ditingkatkan kualitas dengan kesungguhan dan ilmu terhadapnya serta berlomba dan memberikan yang terbaik tentu saja diharap tidak ada salahnya, “Shadaqallahu waAllahu a’lam!“






