MAROS — Desa Tenrigangkae, Kecamatan Mandai, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, memasuki usia ke-62 tahun.
Momentum tersebut tidak hanya menjadi ajang perayaan hari jadi, tetapi juga menjadi ruang untuk kembali mengenang perjalanan panjang desa sekaligus menggali potensi yang dapat dikembangkan bagi kesejahteraan masyarakat.
Puncak peringatan HUT ke-62 Desa Tenrigangkae digelar di kawasan Perumahan Permata Lion Residence, Jumat (21/8/2026) malam.
Perjalanan sejarah Desa Tenrigangkae menjadi salah satu bagian penting dalam perayaan tersebut.
Kilas balik sejarah desa disampaikan Ketua Gapoktan Tenrigangkae, Muh Sabir, yang mengungkap asal-usul hingga perkembangan wilayah Desa Tenrigangkae dari masa ke masa.
Nama Tenrigangkae berasal dari bahasa Bugis. Kata “Tenri” berarti tidak, sedangkan “Gangkae” berarti batas. Jika digabungkan, Tenrigangkae memiliki makna “tidak ada batas” atau “tidak terbatas”.
Sejarah Desa Tenrigangkae juga tidak terlepas dari keberadaan wilayah Kerajaan Tanralili pada masa lampau, sekitar tahun 1700.
Pada awal berdirinya, Desa Tenrigangkae meliputi sejumlah wilayah perkampungan yang merupakan bagian dari wilayah Kerajaan Tanralili. Kampung-kampung tersebut meliputi Barambang, Leko, Pattontongan, Makkaraeng, Sambotara, Tokka, Tamarampu, Salu, Mangento, Batangase, Baddo-Baddo, dan Pao-Pao.
Berdasarkan PPRI Nomor 34 Tahun 1952 tertanggal 12 Agustus 1952, Maros berstatus onderafdeling dan menjadi salah satu wilayah bagian dari Afdeling Makassar.
Onderafdeling Maros membawahi 16 wilayah distrik, salah satunya Distrik Tanralili yang kemudian menjadi cikal bakal wilayah Desa Tenrigangkae.
Sekitar tahun 1950-an, Desa Tenrigangkae mengalami pemekaran wilayah. Wilayah Barambang yang berada di bagian utara dimekarkan dan kini menjadi Desa Bonto Mate’ne.
Selanjutnya, pada 1 Juni 1963, Distrik Tanralili bergabung dengan Federasi Gallarang Appaka yang terdiri atas Gallarang Bira, Gallarang Biringkanaya, Gallarang Moncongloe, dan Gallarang Sudiang. Federasi tersebut kemudian melebur menjadi Kecamatan Mandai.
Federasi Gallarang Appaka sebelumnya merupakan bagian dari wilayah Kerajaan Gowa. Pada masa Kerajaan Gowa, istilah “gallarang” digunakan untuk menyebut wilayah yang setingkat dengan distrik atau kecamatan.
Perkembangan wilayah Desa Tenrigangkae kembali terjadi pada 1985 melalui pemekaran sejumlah wilayah. Pattontongan, Mangento, dan Salu yang berada di sebelah barat dimekarkan menjadi wilayah yang kini dikenal sebagai Desa Pattontongan.
Sementara itu, Baddo-Baddo dan Pao-Pao dimekarkan menjadi wilayah yang kini menjadi Desa Baji Mangngai.
Tokka dan Leko yang berada di sebelah selatan kemudian menjadi wilayah Desa Bonto Marannu.
Adapun Sambotara dan Tamarampu dimekarkan menjadi wilayah yang kini menjadi Kelurahan Bontoa, sedangkan Batangase menjadi wilayah yang kini dikenal sebagai Kelurahan Hasanuddin.
Di tengah berbagai pemekaran tersebut, wilayah Makkaraeng tetap menjadi bagian dari Desa Tenrigangkae. Hingga saat ini, wilayah Desa Tenrigangkae telah terbagi menjadi lima dusun, yakni Dusun Bombongi, Dusun Bugis, Dusun Padaelo, Dusun Tinggito, dan Dusun Makkaraeng.
Rangkaian pemekaran tersebut menjadi bagian penting dari perjalanan sejarah Desa Tenrigangkae, yang menunjukkan perkembangan wilayah dan pemerintahan desa dari masa ke masa hingga membentuk wilayah administratif seperti yang dikenal saat ini.
HUT Ke-62 Desa Tenrigangkae Bukan Sekadar Seremonial
Kepala Desa Tenrigangkae, Wahyu Febry, mengatakan peringatan hari jadi desa bukan sekadar kegiatan seremonial. Momentum tersebut dinilai penting untuk mengenalkan sejarah sekaligus potensi desa kepada generasi muda.
“Ini bukan hanya perayaan ulang tahun desa, tetapi bagaimana kita kembali mengingat sejarah Desa Tenrigangkae. Supaya generasi kita tahu dari mana kita berasal dan bagaimana perjalanan desa ini sampai sekarang,” kata Wahyu.
Wahyu mengatakan, Desa Tenrigangkae memiliki sejarah panjang dengan berbagai potensi yang dapat dikembangkan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Karena itu, pemerintah desa terus mendorong pengembangan potensi ekonomi masyarakat, termasuk UMKM dan pengelolaan usaha milik desa.
“Kami ingin apa yang menjadi potensi desa ini bisa dikenal lebih luas. Bukan hanya di Tenrigangkae, tetapi kalau bisa keluar Maros, bahkan sampai ke luar Sulawesi Selatan,” ujarnya.
Peringatan HUT ke-62 tahun ini juga melibatkan pelaku UMKM. Puluhan pelaku usaha ikut meramaikan kawasan kegiatan dan menjadikan perayaan hari jadi sebagai ruang promosi sekaligus meningkatkan perputaran ekonomi masyarakat.
Bagi pemerintah desa, keterlibatan masyarakat tersebut menjadi bagian penting dalam membangun rasa memiliki terhadap Desa Tenrigangkae.
“Harapan kami masyarakat semakin kompak, semakin bersatu. Karena pembangunan desa tidak bisa dilakukan pemerintah desa saja. Kami membutuhkan dukungan seluruh masyarakat,” katanya.
Bupati Maros Chaidir Syam: Tenrigangkae Harus Semakin Mandiri
Sementara itu, Bupati Maros Chaidir Syam tidak dapat hadir secara langsung dalam perayaan tersebut karena sedang berada di Tarakan, Kalimantan.
Kendati demikian Chaidir menyampaikan sambutan melalui sambungan daring.
“Pertama-tama saya dengan nama pribadi memohon maaf karena tidak dapat hadir langsung di Desa Tenrigangkae. Saya sekarang berada di Tarakan, di Kalimantan,” kata Chaidir.
Meski tidak hadir secara langsung, Chaidir menyampaikan apresiasi kepada pemerintah desa dan masyarakat Tenrigangkae yang terus menjaga kebersamaan serta mencatat berbagai capaian pembangunan.
Dia berharap Desa Tenrigangkae dapat berkembang menjadi desa yang semakin mandiri dan mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
“Insyaallah Desa Tenrigangkae menjadi desa yang mandiri, kemudian desa yang membawa kesejahteraan buat masyarakatnya dengan berbagai prestasi yang telah disampaikan,” ujarnya.
Chaidir juga mengapresiasi kepemimpinan Kepala Desa Wahyu Febry yang dinilai telah membawa sejumlah capaian bagi Desa Tenrigangkae.
Menurutnya, keberhasilan pembangunan desa tidak terlepas dari kekompakan antara pemerintah desa, tokoh masyarakat, dan seluruh warga.
“Yang paling utama adalah mari kita terus menjaga kekompakan antara seluruh masyarakat, seluruh tokoh masyarakat. Mari kita terus menjalin kekompakan untuk membangun Desa Tenrigangkae yang kita sangat sayangi,” katanya.
Chaidir pun mengajak masyarakat untuk terus bersatu dan memberikan kontribusi terbaik bagi kemajuan desa.
“Mari kita terus bersatu untuk membangun desa yang kita cintai, Desa Tenrigangkae, menjadi desa yang mandiri dan sejahtera buat masyarakatnya,” sambungnya.
Peringatan HUT ke-62 Desa Tenrigangkae akhirnya tidak hanya menjadi penanda bertambahnya usia desa.
Lebih dari itu, momentum tersebut menjadi pengingat atas perjalanan sejarah dan berbagai pemekaran wilayah yang telah membentuk Tenrigangkae hingga saat ini.
Dengan sejarah sebagai pijakan, pemerintah desa dan masyarakat diharapkan mampu menjaga semangat kebersamaan, memperkuat gotong royong, serta mengembangkan potensi lokal agar desa Tenrigangkae semakin mandiri dan mampu memberikan manfaat ekonomi yang lebih besar bagi masyarakat.






