PAREPARE — Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disdag) Kota Parepare melalui Kadis Hj Andi Wisna merilis hasil analisis dan monitoring terkait kelangkaan LPG 3 Kg bersubsidi yang belakangan memicu keresahan warga.
Gas melon berwarna hijau ini sejatinya dijual dengan Harga Eceran Tertinggi (HET) Rp18.500 sesuai Pergub Sulsel Nomor 11 Tahun 2021, namun di lapangan kerap sulit didapatkan.
Faktor penyebab, kata Andi Wisna,
disparitas harga dengan LPG non-subsidi (5,5 Kg dan 12 Kg) membuat masyarakat beralih ke LPG 3 Kg demi efisiensi. Penimbunan oleh oknum pangkalan nakal yang menyalurkan ke pengecer untuk dijual lebih mahal. Panic buying akibat isu kelangkaan, stok terserap mendadak. Dan cuaca ekstrem musim kemarau, petani memakai LPG 3 Kg untuk pompa irigasi.
Dari hasil monitoring ke agen:
– PT Salmah Utama Gas (Jl. Lahalede): Menyalurkan 2.800 tabung/hari, stok habis terserap oleh pengecer dadakan dan kebutuhan pertanian.
– PT Hana Sejati Gas (Jl. Industri Kecil): 560 tabung/hari, kelangkaan dipicu warga yang beralih jadi pengecer.
– PT Awal Sejahtera Mandiri (Jl. Mayor Haddade): Kuota berkurang sejak 2026 akibat keterlambatan pengisian SPBE. Pangkalan nakal terancam sanksi.
– PT Kiano Energi Perkasa (Jl. Jend. A. Yani KM 5): 560 tabung/hari, distribusi tertib dengan administrasi lengkap. Kelangkaan dipicu musim tanam padi. Agen menginstruksikan pangkalan tidak melayani pengecer dan siap memberi sanksi.
Hasilnya, Disdag mencatat kuota pangkalan resmi, mulai dari H. Mantire (85–90 tabung/hari), Marawali (100 tabung/hari), hingga Bardin (180 tabung/minggu). Semua pangkalan diwajibkan menyalurkan sesuai HET dan peruntukan.
Menyikapi kondisi tersebut, Area Manager Communication, Relation, & CSR Pertamina Patra Niaga Regional Sulawesi, Lilik Hardiyanto, menegaskan bahwa pihaknya menghargai upaya pemantauan yang dilakukan Disdag bersama agen dan pangkalan.
Menurut Lilik, hasil monitoring menunjukkan kelangkaan dipicu oleh meningkatnya permintaan akibat musim kemarau yang mendorong penggunaan LPG 3 Kg untuk pompanisasi lahan pertanian, munculnya pengecer dadakan, panic buying, serta disparitas harga antara LPG subsidi dan non-subsidi.
Dari sisi penyaluran, distribusi LPG dari SPBE ke agen dan dari agen ke pangkalan tetap berjalan sesuai jadwal, dengan stok terus diupayakan agar kebutuhan masyarakat terpenuhi. Pertamina juga terus berkoordinasi dengan pemerintah daerah, Hiswana Migas, agen, dan pangkalan untuk memastikan penyaluran LPG 3 Kg bersubsidi tepat sasaran.
“Pengawasan akan terus diperketat. Pangkalan yang menyalurkan kepada pihak tidak berhak atau menjual tidak sesuai ketentuan akan ditindak. Kami imbau masyarakat membeli LPG 3 Kg di pangkalan resmi dengan harga sesuai HET dan tidak melakukan pembelian berlebihan,” tegas Lilik, Kamis, 30 Juli 2026.
Kesimpulan, kelangkaan LPG 3 Kg di Parepare terjadi karena maraknya pengecer dadakan, musim kemarau yang memicu pompanisasi pertanian, panic buying masyarakat, disparitas harga dengan LPG non-subsidi yang membuat kalangan menengah ke atas ikut berebut gas melon.
Disdag Parepare bersama Pertamina berkomitmen memperketat pengawasan agar distribusi LPG 3 Kg bersubsidi benar-benar sampai kepada rumah tangga, usaha mikro, petani sasaran, dan nelayan yang berhak menerima subsidi.(*)






