PINRANG — Perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW di Desa Lero, Kecamatan Suppa, Kabupaten Pinrang, tahun ini berlangsung meriah dan penuh makna. Dua tradisi khas pesisir suku Mandar menjadi sorotan yakni Sayyang Pattudu di darat dan Lepa-Lepa Race di laut.
Keduanya bukan sekadar seremoni, tapi simbol silaturahmi, kebanggaan budaya, dan semangat swadaya masyarakat Pa’gae.
Sayyang Pattudu: Tradisi Berkuda yang Bershalawat
Hari ini, Senin, 29 September 2025, pesisir Ujung Lero menjadi panggung bagi Sayyang Pattudu, tradisi berkuda suku Mandar yang memadukan syair pujian kepada Nabi Muhammad dengan parade anak-anak berpakaian adat di atas kuda berhias.
Warga dipastikan akan tumpah ruah menyaksikan irama shalawat yang berpadu dengan langkah kuda, menghadirkan suasana religius dan penuh khidmat.
Sebelum kuda berpuisi, 43 lepa-lepa sudah lebih dulu beradu cepat di laut. Lomba Lepa-Lepa Race digelar sejak 25 hingga 28 September, terbagi dalam dua kategori yakni maraton (25 September) dan segitiga (26–28 September).
Peserta bukan hanya berasal dari Desa Lero, namun dari tanah mandar Sulawesi Barat, dan Lapakaka , Bojo Baru , Kabupaten Barru pun ikut andil.
Ketua Panitia, M Ali Puang Ammang, menjelaskan bahwa lomba ini digerakkan secara swadaya oleh para juragan kapal Pa’gae.
“Kami ingin menjadikan Lepa-Lepa Race sebagai agenda tahunan. Ini bukan sekadar lomba, tapi ajang silaturahmi, pelestarian budaya, dan potensi wisata bahari yang layak mendapat perhatian dari Dinas Pariwisata Kabupaten Pinrang,” ujar M Ali, Minggu, 28 September 2025.
Berikut Hasilnya:
Kategori Maraton
– 🥇 Reski Rahmat
– 🥈 Amalia
– 🥉 Reski Abadi
Kategori Segitiga
– 🥇 Amalia
– 🥈 Cahaya Ilahi
– 🥉 Princes
– 🎖️ Cahaya Tasbih
– 🎖️ Ucapan Tiga Kali
Hadiah Pembinaan
– Juara 1: Rp 3.000.000 + tropi & medali
– Juara 2: Rp 2.000.000
– Juara 3: Rp 1.000.000
– Juara 4: Rp 750.000
– Juara 5: Rp 500.000
Nama-nama perahu seperti Cahaya Ilahi, Ucapan Tiga Kali, dan Princes bukan sekadar label. Mereka adalah doa, harapan, dan kadang sindiran halus khas Mandar yang menyelipkan makna dalam kompetisi.

Panitia berharap lomba ini tak berhenti di tahun ini. Mereka ingin Lepa-Lepa Race masuk kalender pariwisata Kabupaten Pinrang, agar tradisi bahari tak hanya hidup di hati warga, tapi juga di mata pemerintah.
Tokoh masyarakat Desa Lero, HA Aco Parenrengi Depu turut menyampaikan apresiasi atas semangat swadaya dan kekompakan warga dalam menyukseskan kegiatan ini.
“Maulid bukan hanya soal ritual, tapi soal merawat jati diri. Tradisi seperti Sayyang Pattudu dan Lepa-Lepa Race harus terus dijaga, karena di sanalah kita belajar tentang hormat, gotong royong, dan kebanggaan sebagai orang pesisir,” ujar pria yang akrab disapa Puang Aco.
Ia berharap pemerintah daerah, khususnya Dinas Pariwisata, dapat melihat potensi budaya dan wisata yang tumbuh dari akar masyarakat. “Kalau pemerintah mau jujur melihat, ini bukan sekadar lomba. Ini adalah wajah Pinrang yang sesungguhnya berani, bersahabat, dan penuh warna,” tutupnya.(*)






